Kisah Atul Banting Tulang, Demi Perekonomian Keluarga

  • Whatsapp
Perekonomian

Wartaniaga.com, Pelaihari – Ditengah larut malam, mengenakan pakaian serba biru, wanita berjilbab ini nampak telaten menyajikan minuman es blender dari kemasan siap saji di dalam bilik kecil berukuran 2×2 meter.

Sembari menyajikan minuman, Janatul Fardiah ( 42 ) tak canggung melempar senyum kepada pembeli yang sebagian besar para pengunjung taman mina tirta dan keluarga pasien RS H. Boejasin, ia tampak tetap semangat melayani pembeli yang memesan minuman sachet blender dilapak tempatnya berjualan saat ditemui wartaniaga.com pada Senin dini hari (26/11 ).

Muat Lebih

Atul begitu sapaan akrabnya adalah salah seorang pedagang yang menempati 8 buah lapak milik Dinas Pariwisata di taman Mina Tirta Pelaihari, dirinya bersama pedagang yang lain sudah sejak tiga bulan lalu menempati lapak tersebut.

BACA JUGA:  IAKMI Pinta Pemerintah Peduli Perekonomian Masyarakat

Seorang Wanita Bernama Atul Penjual Minuman Es Blender yang Bekerja Keras Demi Perekonomian Keluarga

Atul mengungkapkan dirinya bersama sang suami sudah menggeluti berbagai macam pekerjaan usai berhenti dari sebuah perusahaan kayu milik swasta didaerah Asam – Asam.

Ia menceritakan, sekitar 5 tahun yang lalu memulai usaha berjualan minuman dan makanan disamping pagar bangunan RS. H. Boejasin Pelaihari, saat itu hanya dirinya dan satu orang pedagang lain yang berjualan di tempat tersebut.

Hingga akhirnya sekitar 3 bulan yang lalu dirinya direlokasi oleh Dinas Pariwisata untuk menempati lapak pada area Taman Mina Tirta Pelaihari.

Perekonomian

Atul bersama pedagang lain menempati lapak tersebut dengan sistem sewa kepada pihak Dinas Pariwisata Tanah Laut, pada 2 bulan pertama mereka membayar sebersar Rp60.000 perbulan, namun pada bulan november naik menjadi Rp100.000 perbulannya.

BACA JUGA:  Lima Tipe Pembuang Sampah Warga HSS, yang ke 5 Memilukan

“Sudah sejak tiga bulan yang lalu kami pindah kesini,” ucap Atul.

Pantauan wartaniaga.com yang sering melintas di daerah tersebut, hanya warung milik Atul yang buka dari pagi hingga larut malam.

Saat dikonfirmasi Atul membenarkan hal tersebut, ia membuka kiosnya pukul 08.00, saat pedagang lain belum buka, dan tutup pada jam 24.00 bahkan lebih, saat orang lain sudah tutup sejak pukul 22.00.

Sementara Atul berjualan ditempat tersebut, sang suami Dwi Wahono ( 45 ) berjualan pentol bakso di area terminal Tanah Habang Pelaihari yang masih dekat dengan kawasan istrinya berjualan.

Berhenti dari perusahaan tidak lantas membuat pasutri tersebut menjadi patah semangat, justru malah menjadi sebuah motivasi, terbuki dengan keuletan dan kerja kerasnya Atul mampu membiayai kuliah sang adik disebuah Universitas Farmasi Muhammadiyah di kota Malang.

BACA JUGA:  Kisah Fizah, Remaja Belia Yang Hidup Mandiri

Sementara putri pertamanya Sabilla ( 16 ) duduk di bangku SMU kelas 11 dan Hairunisa duduk dikelas 5 SD. “Alhamdulilah, ada saja rejeki buat mereka sekolah,” beber Atul.

Karena warungnya semakin ramai, Atul akhirnya dibantu oleh Ami, walaupun adik sendiri namun Atul tetap memberlakukan sistem gaji.

“Walaupun adik sendiri, tetap saya gaji seperti orang lain, 450.000 seminggu,” jelas Atul.

Atul memaparkan bekerja tidak hanya harus menjadi pegawai negeri atau di perusahaan swasta, namun pekerjaan sebenarnya bisa kita ciptakan sendiri, tergantung seberapa besar kemauan kita untuk berusaha.

“Menciptakan suatu lapangan pekerjaan akan lebih baik, apalagi dengan hal ini bisa memberikan lapangan kerja bagi orang lain, terutama bagi keluarga,” pungkasnya.

Reporter : Tony Widodo
Editor : Muhammad Zahidi
Foto : Tony

L

Pos terkait