Tak Dapat Penumpang, Terpaksa Makan Uang Setoran

  • Whatsapp
Tak Dapat Penumpang, Terpaksa Makan Uang Setoran

Wartaniaga.com, Banjarbaru – Peralihan taksi konvensional ke online sejauh ini semakin banyak menjatuhkan pendapatan para taksi konvensional. Hingga akhirnya, banyak para sopir taksi kovensional terpaksa gantung stir.

Di kawasan Bandara Syamsuddin Noor ini salah satunya, puluhan taksi argo banyak yang parkir lantaran tidak ada penumpang lagi.

Muat Lebih

Menurut Ifan, salah satu sopir taksi argo ‘Banjar Taksi’ ini mengaku beberapa tahun ini ia dan para sopir lainnya mengalami sepi penumpang. Meskipun demikian, itu bukan alasan karena ia tetap harus berusaha keras untuk menafkahi keluarga.

BACA JUGA:  Ratusan Umat Islam ikuti Shalat Gerhana Matahari di Masjid Sabilal Muhtadin.

Tak Dapat Penumpang, Terpaksa Makan Uang Setoran

“Saking sepinya penumpang, uang setoran aja sering bisa dipinjam untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya kepada Wartaniaga.com disela menunggu penumpang, Rabu (23/10).

Ifan menyebutkan pendapatan yang belum bisa disetorkan kepada perusahaan, sekarang masih menjadi beban besarnya dalam mencari rezeky walaupun keberadaan perekonomiannya saat ini masih dibilang belum memenuhi kebutuhan keluarganya.

Bahkan, parahnya lagi, apabila tidak memenuhi target omset dibulan ini maka mobil yang menjadi usaha sahnya akan ditarik kembali dan tidak diberikan izin untuk beroperasi.

“Anak dua orang sekolah lagi, kadang-kadang bingung mau cari kerjaan apa kalau di PHK,” cetusnya.

Ia menambahkan, kekhawatirannya terhadap kurangnnya pendapatan ini membuatnya harus melakukan pekerjaan extra dari pagi hingga subuh agar omset tersebut dapat tercapai. Namun, sebaliknya, pria asli dari Banjarmasin ini harus rela pulang dengan tangan hampa karena sering kali kosong penumpang.

BACA JUGA:  Hujan Tidak Kurangi Kemeriahan Harjad Kota Banjarbaru

“Sering kali duit setoran untuk menutupi makan keluarga, urusan perusahaan belakangan lah tapi urusan perut saya harus bertanggungjawab,” ucapnya.

Sementara itu, hal serupa juga dikeluhkan oleh Agus, sopir yang selalu setia mangkal di bandara Syamsuddin Noor, menjelaskan memang pengeluaran dan pendapatan dari taksi yang sedang Ia jalankan ini tidak sesuai dengan kenyataan setelah sepuluh tahun yang lalu, karena itu, pihaknya sering mengeluhkan kurangnya perhatian pemerintah dengan nasib yang belum diketahui kapan bisa bertahan lama.

“Tidak lama lagi perusahaan bisa bangkrut kalau kayagini terus, habis itu mau makan apalagi kita sama keluarga dirumah,” tandasnya.

Ia menambahkan dari puluhan taksi yang sering mendapatkan keuntungan besar dari banyaknya penumpang, ternyata, hal tersebut pihaknya masih terbebani dengan potongan-potongan persenan yang harus diterima oleh mereka, termasuk persenan komisi kepada Bandara sebanyak 30 persen dan 20 persen untuk parkir.

BACA JUGA:  TK Idaman Raih Peringkat 3 Nasional Sekolah Sehat

“Pendapatan kami sekarang bersih Rp 100 ribu saja, belum lagi bensin dari situ gimana mau capai omset yang ada paling dipecat,” tutupnya.

Reporter : Riswan
Editor      : Hamdani
Foto        : Riswan

Pos terkait