Kisah Fizah, Remaja Belia Yang Hidup Mandiri

  • Whatsapp
Kisah Fizah, Remaja Belia Yang Hidup Mandiri

Wartaniaga.com, Banjarmasin – Lentik jari jemari lincah dan piawai dipraktekkan oleh Hafizah (19) sembari menyulam dari satu benang ke benang lainnya dengan berbekal sebilah jarum pada mesin jahit tradisional, Gadis berparas jelita ini satu persatu menghasilkan karya tata busana yang elok lagi indah.

Fizah begitu sapaan akrabnya, memiliki hobi menjahit sejak menginjak usia 16 tahun, kala itu ia tertarik ikut Balai Latihan Kerja Provinsi Kalimantan Selatan, selepas lulus dari salah satu Madrasah Aliyah di kota Banjarmasin pada tahun 2016 atau tiga tahun yang lalu.

Muat Lebih

BACA JUGA:  Pengumpulan Dana Baznas Kalsel Selalu Lampaui Target

Usaha menjahit saat ini memang menjadi bisnis yang menjanjikan. Setiap individu pasti memiliki selera pakaian yang berbeda-beda. Tak jarang selera yang dikehendaki tidak ada dijual dipasaran. Kalaupun ada, harganya pun pasti sangat mahal. Hal inilah yang mendasari Fizah memilih untuk mengambil kursus tatabusana Di BLK banjarbaru.

Kisah Fizah, Remaja Belia Yang Hidup Mandiri

Setelah menjadi alumni asrama BLK banjarbaru bidang tata busana pada pertengahan tahun 2017 lalu, Gadis muda kelahiran 9 mei tahun 2000 ini mulai merasa kewalahan karena orderan menjahitnya tiap hari kian menumpuk. Saat ini Fizah sudah bisa hidup mandiri dari hasil menjahit pakaian maupun gaun.

“Orderan yang datang berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari pakaian anak-anak hingga dewasa. Selain perorangan adapula mendapat job untuk menjahit baju batik para guru di salah satu sekolah swasta yang ada di Kelayan B,” bebernya kepada wartaniaga.com, Kamis (17/10).

BACA JUGA:  Targetkan Adipura Kencana, DLH Intensifkan Pengelolaan Sampah

Fizah mengungkapkan menumpuknya orderan itu tidak lepas dari kualitas pakaian yang dibuatnya. Usaha yang dijalankan Fizah memang tergolong masih muda, pasalnya baru 3 tahun ia menjalankan usaha menjahit. Namun dalam tiga tahun tersebut ia mampu hidup mandiri tanpa membebani orang tua.

“Membeli peralatan obras neci dan peralatan lainnya sendiri, saya juga bantu biaya pendidikan adik yang masih pesantren di Jawa Timur,” ungkapnya.

Fizah menyebutkan Tarif baju yang dikenakannya perlembar mulai dari Rp 50.000 hingga Rp70.000 . Sedangkan gaun mulai dari Rp70.000 dan tergangantung tingkat kerumitan pola gaun dari permintaan costumernya. Adapun waktu penyelesaiannya tergolong cepat, dari 3 sampai 4 hari untuk satu buah baju.

BACA JUGA:  AMPI Kalsel Dituntut Pertajam Gerakan Kepemudaan

“Ingin sih punya karyawan, tapi masih bingung untuk membagi gajihnya” kata Fizah sambil memasang kancing dari baju yang baru ia selesaikan.

Reporter : Zakir
Editor : Mukta
Photo : Zakir

Pos terkait