Wartaniaga.com, Banjarmasin – Sebuah sajian makanan ternyata tak hanya berbicara tentang rasa. Di tangan para seniman, makanan dapat menjelma menjadi bahasa untuk bercerita tentang identitas, budaya, sejarah, hingga kehidupan masyarakat.
Semangat itulah yang terasa dalam Pra Biennale Kalimantan bertajuk “Sajian Makanan sebagai Bahasa Pertama” yang digelar di Taman Budaya Kalimantan Selatan, Kamis (13/8/2026).
Biennale sendiri merupakan peristiwa budaya yang mempertemukan karya, gagasan, dan masyarakat dalam sebuah ruang dialog. Sejak pertama kali diselenggarakan di Venesia pada 1895, biennale berkembang menjadi wadah bagi seniman untuk merespons berbagai persoalan sosial, budaya, sejarah, dan lingkungan melalui karya seni.
Berangkat dari semangat tersebut, Biennale Kalimantan hadir sebagai ikhtiar jangka panjang untuk membangun ekosistem seni rupa di Kalimantan. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan bagi perupa, kurator, penulis, komunitas, dan masyarakat untuk bertukar gagasan, memperkuat jejaring, sekaligus membawa suara Kalimantan ke dalam percakapan seni rupa Indonesia dan dunia.
Kurator utama Pra Biennale Kalimantan, Hajriansyah, mengatakan kegiatan tersebut menjadi wadah bagi para perupa untuk menuangkan gagasan dan mengekspresikan buah karya mereka.
Menurutnya, proses kurasi diawali dengan membuka pendaftaran bagi para seniman melalui formulir daring. Dari sekitar 50 karya atau peserta yang masuk, setelah melalui proses penyaringan terpilih 32 seniman serta lima peserta tamu.
“Setelah kami berembuk dengan tiga kurator lainnya, akhirnya tercetuslah tajuk Sajian Makanan sebagai Bahasa Pertama,” ungkap Hajriansyah.
Ia berharap Pra Biennale Kalimantan tidak berhenti sebagai sebuah pameran, tetapi menjadi titik awal kebangkitan seni rupa di Kalimantan. Ia ingin karya dan gagasan para perupa lokal dapat semakin dikenal, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga menembus panggung internasional.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi awal kebangkitan para perupa di Kalimantan, bisa dikenal luas, bukan saja di kancah nasional, bahkan mancanegara,” harapnya.
Dalam kegiatan tersebut, terdapat sejumlah perupa undangan, di antaranya Agus TBR, Robert Nasrullah, Diah Yulianti, dan Misbach Tamrin. Satu perupa undangan lainnya berhalangan hadir.
Antusiasme masyarakat juga terlihat dari kunjungan ke ruang pameran. Salah seorang pengunjung, Mustika, mengaku tertarik datang setelah mengetahui kegiatan tersebut melalui media sosial.
Ia mengapresiasi terselenggaranya pameran yang menurutnya memberikan ruang bagi masyarakat untuk lebih dekat dengan dunia seni sekaligus mengenal gagasan para perupa Kalimantan.
Pameran Pra Biennale Kalimantan ini berlangsung 10–24 Agustus 2026, setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 22.00 WITA.
Hajriansyah mengatakan, antusiasme pengunjung biasanya meningkat pada akhir pekan. Bahkan pada kegiatan sebelumnya, panitia harus menyiapkan tempat duduk tambahan di halaman karena tingginya jumlah pengunjung.
“Puncak pengunjung biasanya pada akhir pekan, Sabtu dan Minggu. Bahkan pada kegiatan sebelumnya kami menyiapkan tempat duduk di halaman agar tidak berdesakan,” tuturnya.
Lebih dari sekadar memamerkan karya, Pra Biennale Kalimantan menjadi ruang untuk mendengarkan suara Borneo melalui bahasa seni.
Dari makanan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, para perupa mencoba mengajak masyarakat membaca kembali siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan bagaimana sebuah kebudayaan terus hidup melalui cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Editor : Eddy Dharmawan



















