Diah Yulianti Titip Pesan Alam Kalimantan Lewat Dua Lukisan

Wartaniaga.com, Banjarmasin – Menjadi seorang seniman bukan sekadar tentang bakat dan kemampuan mengolah warna. Di balik setiap karya, ada pengalaman, perjalanan batin, bahkan pergulatan spiritual yang melahirkan sebuah pesan.

Hal itulah yang tergambar dalam perjalanan seni Diah Yulianti. Seniman yang akrab disapa Diah ini banyak menggali pengalaman spiritualnya dengan membaur dan bermalam bersama masyarakat adat.

Dari perjalanan tersebut, lahir karya-karya yang dekat dengan kehidupan masyarakat adat, khususnya dalam menjaga tanah, hutan, tradisi bercocok tanam, serta keseimbangan dengan alam.

Dalam kegiatan Pra Biennale Kalimantan, Diah menampilkan dua karya lukisan yang tidak hanya menawarkan keindahan artistik, tetapi juga menyuarakan realitas sosial dan kegelisahan terhadap masa depan alam Kalimantan.

Karya pertama berjudul “Spiritualitas Agraris”, menggunakan cat akrilik di atas kanvas berukuran 140 x 120 sentimeter.

Melalui karya ini, Diah menggambarkan bagaimana tanah bagi masyarakat Dayak Meratus dipandang sebagai Umang atau Ibu—sumber kehidupan sekaligus ruang spiritual yang harus dihormati dan dijaga.

Ritual Huma Ladang dalam menanam padi menjadi simbol rasa syukur atas kesuburan tanah sekaligus bentuk hubungan manusia dengan leluhur. Bagi masyarakat adat, keberhasilan panen bukan semata tentang hasil bumi, tetapi juga cerminan hubungan harmonis antara manusia, tanah, hutan, dan alam.

Tanah dan hutan dipandang sebagai entitas yang hidup. Alam tidak hanya memberikan kehidupan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk dijaga agar ekosistem tetap tumbuh dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sementara karya kedua bertajuk “Transformasi Lapisan Purba di Tanah Leluhur”, menggunakan cat akrilik di atas kanvas berukuran 143 x 118 sentimeter.

Karya ini menghadirkan kritik yang lebih tajam terhadap eksploitasi alam Kalimantan.

Ketika hutan dibabat dan gunung digali, ruang bagi masyarakat untuk berhuma dan berladang perlahan menghilang. Hilangnya lahan tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga memukul ketahanan pangan dan memutus mata pencaharian tradisional masyarakat adat yang selama turun-temurun menggantungkan hidup dari berladang dan mencari ikan.

Kekayaan alam Kalimantan yang terus dikeruk, dihisap, digali, dibabat, dan diangkut meninggalkan ironi besar. Di satu sisi pembangunan terus bergerak, namun di sisi lain krisis ekologis semakin nyata.

Beton-beton ditegakkan atas nama pembangunan, sementara tanah adat perlahan ditanduskan.

Yang hilang, menurut pesan dalam karya tersebut, bukan hanya hutan dan kesuburan tanah. Lebih jauh, yang terancam hilang adalah ingatan manusia tentang bagaimana menghormati tanah leluhur yang sejak dahulu telah menghidupi mereka.

Dua lukisan Diah seolah menjadi suara yang mengingatkan bahwa alam bukan sekadar sumber daya untuk dieksploitasi. Di dalam tanah, hutan, sungai, dan ladang, tersimpan kehidupan, kebudayaan, spiritualitas, serta warisan leluhur yang semestinya dijaga bersama.

Sayangnya, Diah tidak dapat hadir secara langsung dalam pembukaan Pra Biennale Kalimantan. Saat kegiatan berlangsung, ia tengah mendampingi putrinya, Luna, yang sedang mempersiapkan keberangkatan untuk melanjutkan pendidikan S2 di Nanjing University of Arts, China, mengambil jurusan Art Management.

Melalui pesan singkat, Kamis (13/8), dari Yogyakarta, Diah menyampaikan permohonan maaf karena tidak dapat hadir.

“Mohon maaf tidak bisa hadir di acara pembukaan pameran Pra Biennale Kalimantan, karena saya sedang membersamai putriku Luna untuk persiapan keberangkatannya melanjutkan studi S2 di Nanjing University of Arts, China, Jurusan Art Management,” ujarnya.

Ia pun menitipkan salam kepada seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

“Semoga pameran berjalan lancar dan sukses,” katanya.

Dua karya Diah akhirnya hadir menggantikan kehadirannya. Lewat sapuan warna dan simbol, ia seolah menitipkan satu pesan sederhana namun dalam: ketika tanah leluhur kehilangan kehidupan, manusia pun perlahan kehilangan sebagian dari dirinya sendiri.

Editor : Eddy Dharmawan

Pos terkait