Mahasiswa UNUKASE Teliti Etnomatematika dalam Arsitektur dan Tradisi Masyarakat Banjar

Mahasiswa UNUKASE meneliti Etnomatematika pada Masjid Kanas (Foto : Ist)

Wartaniaga.com, Banjarmasin – Masjid Tuhfaturroghibin atau yang lebih dikenal sebagai “Masjid Kanas” di Alalak Tengah, Banjarmasin Utara, menjadi fokus penelitian etnomatematika oleh Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan (UNUKASE).

Penelitian ini mengungkap keterkaitan antara nilai-nilai matematika dengan arsitektur dan tradisi masyarakat Banjar.

Masjid Kanas, yang dikenal sebagai salah satu tempat ibadah tertua di Banjarmasin, ternyata menyimpan pola-pola matematika dalam desainnya. Penelitian menemukan adanya simetri bangunan, bentuk geometri dalam ukiran kayu, serta konsep numerik yang terintegrasi dalam struktur ruang dan ritus keagamaan. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai matematis telah lama hadir dalam budaya lokal.

Salah satu peneliti, Selvi, menyebutkan bahwa bentuk “kanas” atau nanas pada atap masjid menjadi titik awal observasi mereka. “Bentuk kanas bukan sekadar ornamen, tapi punya lengkungan geometris khas yang mencerminkan filosofi pembersihan diri. Ini contoh perpaduan estetika, spiritualitas, dan matematika dalam budaya Banjar,” ujarnya, Jumat (4/7).

Penelitian juga mencatat bagaimana masyarakat setempat memiliki pemahaman ruang dan waktu yang cermat. Lokasi masjid yang berada di pertemuan anak sungai menuju Sungai Barito mencerminkan pengetahuan geografis lokal. Selain itu, pada salah satu tiang masjid ditemukan ukiran tulisan Arab yang menunjukkan tanggal pendirian, yakni Ahad, 11 Muharram 1347 H, yang masih dapat dibaca dan dipahami oleh masyarakat setempat.

Ketua Ta’mir Masjid Kanas, Ustadz Muhammad Lutfi, mengapresiasi penelitian ini. Ia berharap generasi muda lebih giat menggali nilai-nilai lokal. “Simbol-simbol seperti kanas itu punya makna spiritual. Seperti nanas yang membersihkan karat, kita berharap hati orang yang datang ke masjid ini juga ikut bersih,” jelasnya.

Ke depan, hasil penelitian ini akan dipresentasikan dalam forum akademik dan dikembangkan menjadi media pembelajaran matematika kontekstual berbasis budaya lokal. Pendekatan etnomatematika ini menjadikan Masjid Kanas tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai laboratorium ilmu pengetahuan dan warisan budaya yang hidup.

Editor : Eddy Dharmawan

Pos terkait