Menengok Pembuatan Gula Aren Lampihong

  • Whatsapp
Gula habang produksi desa Matang Hanau kecamatan Lampihong, Balangan
L

Wartaniaga.com, Paringin – Gula Aren atau yang lebih dikenal masyarakat kabupaten Balangan gula habang menjadi salah satu produk andalan dari Kecamatan Lampihong. Tidak tanggung-tanggung, terdapat beberapa desa yang masyarakatnya 90 persen menggeluti pembuatan gula habang.

Salah satu desa yang terkenal dengan gula arennya adalah desa Matang Hanau. Hanau sendiri diambil dalam bahasa Indonesia adalah pohon Aren. Dari namanya ini saja sudah menunjukan desa ini banyak ditumbuhi pohon aren yang menjadi bahan baku pembuatan gula.

Aslam salah seorang pembuat gula habang kepada awak media ini mengaku sudah lebih dari 15 tahun menggeluti profesinya ini.
“Saya membuat gula aren sudah belasan tahun, selain ada juga usaha sampingan.

BACA JUGA:  Mappanretasi 2022 Hadirkan Nuansa yang Berbeda

Tetapi ketika masa pandemi ini, sekitar satu tahun lebih ini saya fokus untuk membuat gula habang,” tuturnya.

Dikenal memilki kualitas nomor wahid, tak heran jika gula produksi masyarakat kecamatan Lampihong menjadi serbuan pembeli. Pembelinya tidak hanya sekitar kabupaten Balangan tetapi juga Tabalong, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, bahkan beberapa kabupaten dari Kalimantan Tengah.

Aslam menunturkan sehari ia mampu mengumpulkan tujuh jaregen atau sekitar 35 liter aren dari tujuh pohon aren miliknya yang berada di belakang rumahnya.ungkapnya
Menurutnya dalam satu hari dirinya hanya mampu membuat 60 biji Gula Habang. Hal ini dikarekan proses pengolahannya yang masih manual.

“ 10 biji untuk berat 1,5 kg dan 50 biji yang ukuran kecil-kecil, maksimal 60 biji itu. Pembuatan kami masih manual dan ini kami pertahankan sebagai warisan nenek moyang serta menjaga kualitas. Kami tidak mencampur prokduk gula ini dengan bahan-bahan pengawet buatan, gula pasir atau yang lainnya, semuanya alami,” paparnya.

BACA JUGA:  Kembangkan Budaya dan Pariwisata, Disbudpar Kucurkan Milyaran Rupiah

Demi mempertahankan kualitas itu pula Aslam rela memasak gula aren tersebut selama 8 jam dengan api dan tungku yang selalau menyala.

“Pengolahan bisa mencapai 8 jam, air laang (air aren, red ) harus benar benar matang, dan warnanya mulai merah kehitaman yang tandanya matang. Dan apinya tidak dari gas tapi api dari tungku yang kami hidupkan serta selalu dijaga selama 8 jam agar tidak padam,” tutur Aslam.

Dijual dengan harga Rp25 ribu untuk ukuran 1,5 kg dan Rp3000 gula habang olahan Aslam selalu ludes diserbu pembeli. “ Alhamdulillah ada saja pembelinya, apalagi nanti menjelang dan saat bulan Ramadhan penjualannya pasti meningkat,” katanya.

Reporter : Siti Nurjanah

Editor : Nirma Hafizah

Pos terkait