Bukan itu saja, semenjak ia menggunakan sarung Sasirangan hampir setiap bulan dirinya membeli Sasirangan.

“ Saat ini, saya anggarkan setiap bulan harus beli Sasirangan. Bayangkan jika ada 100 orang seperti saya menjadikan kain ini sebagai pakaiannya sehar-hari, maka produksi pengrajin juga ikut meningkat,” papar Miko.
Menariknya lagi, status dan foto di sosial medianya saat menggunakan sarung Sasirangan ternyata menjadi berkah tersendiri bagi ayah 2 anak ini. Tak sedikit masyarakat yang memesan Sasirangan kepadanya.

“ Dikira orang saya jualan Sasirangan, padahal saya hanya mengungah kegiatan sehari-hari yang kebetulan menggunakan sarung Sasirangan. Tapi saya layani dan belikan, lumayan pembelinya dari berbagai daerah di Indonesia, sebulan bisa puluhan orang lebih,” kata Ketua Asosiasi Pendamping UKM Kalimantan Selatan.
Bagi Miko, apa yang ia lakukan ini adalah upaya untuk mempopulerkan Sasirangan, membantu meningkatkan produksi pengrajin dan mempertahankan budaya.
“ Tidak hanya di Banjarmasin, saat saya berada di luar daerahpun saya tetap menggunakannya, kita harus bangga dengan kain khas ini. Ini adalah contoh kecil bagaimana mengubah fungsi untuk meningkatkan produksi, mungkin masih banyak juga cara lain,” ucapnya seraya berharap adanya dukungan pemerintah agar pengrajin kain Sasirangan dapat bertahan di tengah serbuan Sasirangan printing.
Editor : Didin Ariyadi.



















