Pulau Curiak Salah Satu Destinasi Wisata Kalsel Nan Eksotis

  • Whatsapp

Wartaniaga.com, Marabahan – Salah satu destinasi wisata yang dimiliki oleh Kalimantan Selatan ( Kalsel) ini bernama Pulau Curiak, terletak diwilayah Batola desa Marabahan Baru Kecamatan Anjir Muara Kabupaten Batola.

Pulau kecil ini dihuni beberapa habitat alam seperti berbagai jenis burung apalagi pada musim-musim tertentu puluhan bahkan ratusan burung mampir di pulau ini untuk beristirahat dan sebagian ada yang menetap salah satunya adalah burung Curiak yang menjadi nama pulau ini.


Sebenarnya pulau curiak ini adalah daratan yang dikelilingi oleh sungai dan tumbuhan mangrove seperti pohon rambai yang banyak ditemui disekeliling pulau. Pohon ini merupakan pohon yang menahan dan mengikat daratan sebagai pagar atau benteng terjadinya pengikisan daratan akibat air pasang.

Selain itu, dipulau ini juga tumbuh berbagai tanaman hutan seperti buah ketapi (kecapi,red), buah cempedak, jambu air, rambutan, pohon galam, kelapa, mangga dan pohon rambai yang banyak ditemui disekeliling pulau.

Selaku pembina pengelola Pulau Konservasi Curiak dan Aktifis Lingkungan, Fery Lens mengatakan bahwa pulau Curiak merupakan pulau riset Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) yang digunakan untuk ilmuwan serta pencinta lingkungan sehingga penataan dan penanaman kembali pohon mangrove seperti Pohon Rambai menjadi wajib karena pohon tersebut menjadi habitat alam juga makanan bagi Bekantan.

BACA JUGA:  Pemprov Kalsel Manfaatkan Embung Sebagai Wahana Wisata Baru

“Awalnya pulau kecil ini hanya sekitar 2,4 hektar dan hanya dihuni oleh beberapa Bekantan yang merupakan maskot dari pulau Kalimantan, bahkan Bekantan sendiri menjadi ikon dari beberapa Negara tetangga seperti Malaysia, Serawak, Brunei dan Singapura baik dari segi pariwisata maupun keilmuan,”jelasnya.

Dia memaparkan ada 3 hal yang menjadi perhatiannya untuk mengelola pulau ini, pertama adalah “Tanggung jawab keilmuan, kedua kita ini adalah warga Negara Indonesia, sehingga tanggung jawab undang-undang adalah kita menjaga apa yang dilindungi pemerintah sebagai warga Negara kitapun turut melindunginya. Dan yang ketiga adalah Tanggung jawab kita sebagai khalifah dimuka bumi ini merupakan tanggung jawab keimanan.

Diluar itu adalah rasa nasionalisme sebagai warga Negara, karena Bekantan itu menjadi rebutan 4 Negara yang seperti disebutkan diatas tadi. Sebagai pulau yang memiliki Bekantan terbesar didunia tetapi yang popular Negara orang.

BACA JUGA:  Lagi, Abdul Hadi Telusur Wisata Tersembunyi Bumi Sanggam

“Nah untuk itulah kita melakukan penelitian tentang Bekantan, jadi basicnya konservasi ini adalah riset. Untuk itu dibangun stasiun riset disini, dan kita ingin mempopularkan Bekantan bukan nama yang lain kedunia,”tandasnya.

Fery juga menambahkan bahwa bagaimana menyelamatkan Bekantan di luar kawasan konservasi yang tidak dilindungi oleh pemerintah, oleh karena itu merupakan kewajiban kita melindunginya dalam mendukung program pemerintah tetapi berbasis riset.

Dengan pulau yang hanya 2,4 hektar dianggap kecil, tidak mungkin akan berkembang biak populasi Bekantan, seiring dengan waktu merekapun merestorasi pulau kecil tesebut dengan penanaman kembali hutan Mangrove sehingga sampai dengan saat ini (2021) luasnya bertambah menjadi 3,9 hektar.

Restorasi Pulau Curiak dimulai sejak 2016 dan ditanami sebanyak 2000 pohon Rambai sedangkan populasi Bekantan yang awalnya hanya 4/5 ekor sekarang berkembang menjadi 28 ekor dan di awal September 2021 ini lahir 1 anak Bekantan sehingga bertambah menjadi 29 ekor.

BACA JUGA:  Pokdarwis dan Patriot Dilatih Bisnis Pariwisata

Hingga saat ini, pulau ini menjadi salah satu Destinasi wisata alam yang dimiliki oleh Kalimantan Selatan selain bekerja sama dengan ULM sebagai kawasan riset yang diresmikan oleh Rektor ULM, Prof Sutarto Hadi dan Tim Riset Robert Lembaga Lingkungan Hidup di bawah PBB dari Australia.

Bahkan dalam setahun Australia mengirimkan mahasiswanya sampai 40 orang setahun 2 kali, sejak awal 2020, dimana masa pandemi covid-19 yang melanda dunia. Untuk saat ini merekapun berhenti mengirim para mahasiswanya sambil menunggu situasi pandemi ini terkendali.

“Mudah-mudahan semua pihak, stakeholder disini merasa memilki dan menjaga dengan baik, sehingga bisa membantu wisata daerah dan tentunya perekonomian masyarakat sekitar bertambah baik,”tutupnya.

Editor : Eddy Dharmawan

L

Pos terkait