Lebaran di Tengah Covid-19, Omzet Pedagang Pakaian Naik

  • Whatsapp

Wartaniaga.com, Banjarmasin- H+5 Idul Fitri 1422 H, suasana di Pasar Sudimampir terpantau sepi dari pembeli. Padahal, beberapa hari sebelum lebaran, hiruk pikuk mewarnai aktivitas warga Banjarmasin yang ingin menyambut datangnya hari kemenangan.

“Iya, menjelang Hari Raya Idul Fitri kemarin, pertokoan di kawasan Pasar Sudimampir ini, ramai diserbu pembeli. Terutama, toko-toko yang menawarkan berbagai macam pakaian jadi,” ucap Cecep, salah seorang pedagang di kawasan Pasar Sudimampir Banjarmasin, Senin (17/5/2021).

Menurutnya, warga Banjarmasin dan sekitarnya, terutama umat muslim, mulai berburu pakaian untuk dikenakan saat lebaran lalu. “Sepertinya, untuk sesaat mereka ingin melupakan pandemi Covid-19 yang sudah dua tahun terakhir ini terus menghantui,” tuturnya.

Salah satunya, Toko Aurosid, milik Cecep yang menjual busana muslim untuk pria. Di toko yang terletak di lantai dasar Pasar Sudimampir ini, sempat diserbu pembeli saat di penghujung Ramadhan lalu.

BACA JUGA:  Aplikasi PeduliLindungi Jadi Syarat Perjalanan Semua Moda Transportasi, Begini Cara Menggunakannya

Cepep mengakui, omzet penjualannya selama Ramadhan 1442 H tadi meningkat sekitar 50 persen jika dibandingkan tahun lalu, ketika virus Corona mulai mewabah di Banjarmasin.

“Tahun ini, trennya cukup positif. Bahkan, sepekan sebelum memasuki bulan Ramadhan, penjualan sudah mengalami peningkatan. Boleh dibilang, omzetnya sudah naik 40 persen saat itu. Makin ke sini, tambah naik hingga 50 persen lah,” ujarnya.

Dia menambahkan, yang paling banyak dicari pembeli adalah baju gamis dan baju koko. Modelnya macam-macam. Harganya pun bervariasi, tergantung jenis bahan kain yang digunakan. Kisarannya, mulai Rp 100 ribu hingga Rp 500 ribu lebih per potongnya.

“Alhamdulilah, jika dirata-ratakan, dalam sehari omzet kotornya sekitar Rp 10 juta sampai Rp 11 juta. Lumayan lah, dibanding tahun 2020 lalu, saat masih diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Banjarmasin,” ungkap Cecep.

BACA JUGA:  Soal Moratorium Izin Travel Umroh. Begini Tanggapan Pengusaha Travel di Banua

Namun, kata dia lagi, perputaran barang tahun ini, masih jauh lebih sedikit dibanding ketika sebelum pandemi Covid-19 melanda.

Cecep bercerita, berdagang busana muslim pria ini sudah lebih 10 tahun digelutinya. Ia melanjutkan usaha turun temurun sejak orangtuanya.

“Selain menjual eceran, kami juga juga melayani penjualan partai atau grosiran. Yang pasti, ada potongan harga jika pembelian dalam jumlah banyak,” jelasnya.

Umumnya, lanjut Cecep, seminggu sebelum lebaran, pembeli semakin banyak yang datang ke pasar untuk berbelanja. “Semakin mendekati lebaran, semakin ramai pembelinya,” tambahnya lagi.

Ia juga menuturkan, selain momen Idul Fitri, peringatan hari besar Islam lainnya juga sangat mempengaruhi omzet penjualan di tokonya. Selain itu, banyaknya kegiatan majelis ta’lim atau pengajian-pengajian di Banjarmasin cukup berpengaruh terhadap penjualan busana muslim.

BACA JUGA:  Alumni Akuntansi Berpeluang Raih Beragam Sektor Lapangan Kerja

“Biasanya, selain Idul Fitri, momen Idul Adha, pengajian rutin dan juga ketika ada peringatan haul ulama besar, cukup memengaruhi tingkat penjualan di tokonya,” imbuhnya.

Namun, lanjut Cecep, momentum ‘laris manis’ busana muslim yang dijualnya, tak serta merta terjadi setiap hari. Trend positif hanya berlaku saat jelang perayaan hari besar umat Islam saja. Terlebih, di tengah pandemi Covid-19 yang mengantam semua sendi kehidupan, termasuk sektor ekonomi.

“Wabah Corona sangat memukul perekonomian. Dari skala besar hingga pedagang kecil seperti kami. Sulitnya mata pencarian di tengah upaya kita memerangi Covid-19, menyebabkan menurunnya daya beli masyarakat. Semoga saja, pandemi ini segera berakhir,” pungkasnya.

Reporter : Ahmad Syarif
Editor : Nirma Hafizah

L

Pos terkait