Dial Fakih Fauzi juara pertama lomba mengaku tertarik mengikuti lomba karena ingin berkreasi melalui limbah-limbah yang banyak ditemukan di sekitar perkebunan sawit.Ia pun memilih memilih membuat miniatur kapal Pinisi, yang memerlukan kesabaran dan keuletan.Untuk produk ini Fauzi rela menghabiskan waktu selama 14 jam lebih untuk satu buah miniatur perahu pinisi.
“ Kenapa harus kapal pinisi, karena ini adalah kapal warisan nenek moyang kita. Tentunya ini bentuk apresiasi kami dan turut melestarikan seni budaya daerah. sebagai putra daerah Sulawesi Selatan (Sulsel) untuk ikut serta melestarikan kebudayaan daerah asalnya hingga melalui karya kerajinan tangan ini ia berharap dapat mengingatkan dan mengajak generasi muda untuk tidak melupakan warisan nenek moyang yang menurutnya Kapal Pinisi bukan hanya milik Sulsel saja namun Kapal Pinisi adalah milik Indonesia dan Wajib dilestarikan.” Kata Fauzi saat dikunjungi salah satu perwakilan perusahaan perkebunan, Slamet Riadi.
Slamet Riadi, Security Area Manager C1 (SAM) mengapresiasi langkah-langkah yang dilakukan para siswa SMP Astra Makmur Jaya (AMJ). Karena ini bentuk inovasi dan kreativitas yang tiada henti dari sekolah binaan Astra Agro Lestari.
“ Ini yang selalu kita dorong, agar generasi muda itu lebih kreatif, rajin dan mandiri. Pemanfaatan limbah-limbah sawit memberikan inspiring tersendiri bagi anak muda lainya. Karena mereka sudah membuktikan berada di pelosok tidak membuat kreativitas mati dan terhenti, hasilnya benar-benar membuat bangga,” ujar Slamet Riadi.
Editor : Aditya




















