“Petani akan mendapatkan bantuan pendampingan dan akan mempunyai tanah pertanian sendiri dengan dukungan perusahaan,”jelasnya.
Selain itu, kata Eko, kepemilikan tanah dan usaha individu petani bisa diangsur seperti mengkredit KPR Rumah setelah 10 tahun akan jadi milik petani, uang kredit diambil dari hasil pertanian,peternakan atau perikanan. “ Layaknya real estate modern, inilah kenapa kita sebut cluster pertanian,” ucap politisi partai Gerindra ini.
Dirinya memaparkan, sistem pertanian modern ini memiliki ases ke perbankan, industri serta buyer untuk eksport dan bekerja berdasarkan standar operasional prosedur (SOP) yang ditetapkan.
“ Teknologi dan pasar dalam satu paket, petani benar-benar mengikuti SOP yang ditetapkan dengan teknologi dan mesin secara kolektif dari perusahaan , mirip perkebunan sawit. Kita yang pertama di dunia dan milik rakyat atau petani bukan milik konglomerat dengan koperasi atau yang sejenis sehingga pembiayaannya juga lebih transparan,” ungkapnya seraya menambahkan ini tidak hanya farm tapi juga akan menjadi salah satu penopang lumbung pangan nasional.
Dalam hal ini, sambungnya petani dan perusahaan menjadi mitra selaras dan kerjasama demi tujuan bersama yakni pengembangan pertanian yang modern serta kesejahteraan dan masa depan petani yang berdaulat.
Eko juga mengungkapkan dalam waktu dekat cluster pertanian akan dikembangkan diberbagai daerah di Indonesia termasuk di Kalimantan.
“ Kami sudah menggandeng beberapa pengusaha di Kalimantan Selatan dan Tengah yang interest dengan konsep pertanian terpadu 4.0 ini. Dan semoga keinginan kami untuk membuat cluster pertanian di sana bisa cepat terealisasi khsusnya untuk wilayah Banjarbaru atau kabupaten Banjar,” tutupnya.
Editor : Didin Ariyadi



















