” Dengan banyaknya lahan gambut tentunya daerah kami jadi rentan terhadap kebakaran, dimana kebakaran ini diakibatkan masih kurangnya pemahaman masyarakat terhadap kerugian yang ditimbulkan dengan pembukaan lahan dengan cara dibakar dibandingkan dengan ke untungan yang didapatkan hanya oleh beberapa orang serta kebutuhan mendesak sehingga masyarakat melakukan pembakaran lahan,” katanya
Namun, lanjunya pihak pemkab HSU selalu memberikan pemahaman menyeluruh kepada masyarakat melalui perangkat desa agar tidak membuka lahan dengan dibakar, bahkan pihaknya memberikan bantuan melalui instansi terkait dan dana desa untuk menunjang pencegahan karhutla sehigga didesa tersedia sarana dan prasarana untuk pencegahan karhutla tersebut.
“Saya juga sangat mengapresiasi kepada aparat dan masyarakat yang peduli dan siaga dengan bahaya karhutla sehingga membentuk kelompok atau semacam satgas yang selalu berkoordinasi dan selalu bersenergi,”tambahnya.
Di akhir acara Wahid juga menjelaskan dan berharap dalam menunjang program BRG Pamerintah telah menerbitkan Perbub serta berharap BRG tetap menjadi pendamping bagi desa.
” Sejak tahun 2019 kami sudah terbitkan Perbub untuk desa peduli gambut dan desa disekitarnya agar selalu bersenergi untuk membangun perekonomian dan kepada Pamerintah Pusat agar tetap memberikan lembaga pendamping desa, mengingat keberadaan BRG ini benar benar penting dan bermanfaat, mestinya harus diperkuat,”tutupnya.
Dalam acara dialog tersebut, selain Bupati HSU, juga diikuti oleh Beni Hernedi, Wakil Bupati MuBa Sumatera Selatan dan Kepala Desa Cohong kabupaten Pulang Pisau Kalimantan Tengah, Yanto L. Adam selaku narasumber serta Suraya Afiff yang merupakan Pakar antropologi Universitas Indonesia sebagai peneliti gambut.
Reporter : Darma Setiawan
Editor :Yudha Aditya



















