Sementara itu, Ketua Konsorsium Ekspedisi Nusantara (KEN) Indonesia, H Muhammad Yamin IE beranggapan pemerintah belum siap diberbagai sisi.
“ Salah satu syarakat ekonomi bergerak adalah dukungan transportasi. Saksikan sarana angkutan umum, pesawat misalnya new normal tidak mungkin akan berkapasitas seperti dahulu apalagi maskapai swasta yang sangat dempet seat nya,”ucapnya.

Maka, jika diberlakukan new normal minimal maskapai airline harus membuang 2/3 kursinya dan dipastikan harga tiket menjadi 3 kali sebelum pandemi. Dan begitu seterusnya pada kereta api, kapal laut, bus, dan angkutan umum darat yg mengangkut manusia.
“ Artinya sulit menerapkan new normal dengan salah satu syaratnya social distancing. Dan jika diberlakukan membuang 2/3 penumpang, siapkah pemerintah memsubsidi transportasi umum itu ?,” ujarnya.
Yamin mengajak berkaca pada Korea Selatan yang gagal walau memiliki kemampuan ekonomi yang mapan.
“ Korea Selatan itu warga dan negaranya berdisiplin tinggi, namun mereka ternyata gagal terapkan new normal dan kembali ke sosial distancing, perlu menjadi catatan kita kondisi korea saat mampu kontrolnya karena kemampuan ekonomi masih mapan, nah kita sebelum ini new normal saja sudah susah jadi akan jadi apa?,” terangnya.
Pria yang juga Pembina Asperindo DPW Kalsel ini berpendapat jika new normal sudah jadi pilihan negara, maka sikap terbaik adalah semua aparatur, dunia usaha, dan masyarakat memberikan respon positif agar optimal berjalannya.
“Semua meski berdisiplin, jangan segan saling mengingatkan jika siapapun indisiplinier, karena apapun resikonya akan dirasakan berjamaah sambil semua bermanajab dan berdoa kepada Allah SWT,” katanya mengakhiri.
Editor : Didin Ariyadi



















