Dikatakannya, sudah ada 36 angkatan yang mengikuti pelatihan budidaya ikan air tawar ini, bukan hanya ikan papuyu, tetapi ikan lele, ikan patin dan ikan Gabus.
“Rata-rata sudah berhasil menerapkan sistem ini, sekitar 70%. Sedangkan tingkat gagalan sangat minim, biasanya salah dalam melakukan budidaya misalnya ukuran atau perbandingan penggunaan material bioflok tersebut,” katanya.
Baginya, ini merupakan peluang yang cukup besar. Bukan saja pasar lokal tetapi pasar mancanegara juga masih terbuka.
” Ikan Haruan dan Papuyu sangat digemari, harganya mahal, maka sangat disayangkan jika ini tidak dimanfaatkan” pungkas Arifin.
Reporter / Foto : Edhy Dharmawan
Editor : Didin Ariyadi




















