Target 7%, Ahli Sebut Marak Kebijakan Menahan Pertumbuhan Ekonomi

  • Whatsapp
Target 7%, Ahli Sebut Marak Kebijakan Menahan Pertumbuhan Ekonomi

Wartaniaga.com, Jakarta – Pengamat dan ahli kebijakan publik, Universitas Trisakti Jakarta, Profesor Trubus Rahardiansyah menilai kinerja perekonomian masih belum mengkilap pada periode 100 hari pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin.

Padahal ujarnya, target Presiden Jokowi untuk memacu pertumbuhan ekonomi pada periode kedua ini sampai pada angka 7 persen di periode Kabinet Indonesia Maju ini.

“Namun kian diwarnai pesimisme, karena kebijakan-kebijakan yang diambil justru bersifat menahan pertambahan ekonomi, Pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun lalu justru menunjukkan tren melambat,” ujarnya.

Kebijakan Menahan Pertumbuhan Ekonomi

Trubus menyatakan hingga saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia tak kunjung beranjak dari posisi 5 persen. daya beli masyarakat yang terpangkas akibat penurunan harga komoditas dan dampak pelemahan global, semakin tertekan dengan sejumlah kebijakan kenaikan harga di awal tahun ini.

BACA JUGA:  Antisipasi Dampak Perang Dagang dan Corona, Pencairan Dana Desa Dipercepat

Lanjutnya diantaranya adalah kenaikan tarif iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan cukai rokok, penyesuaian tarif tol, hingga perubahan pola penyaluran subsidi gas LPG. Pemerintah seperti melupakan bahwa konsumsi merupakan mesin utama pendorong pertumbuhan ekonomi.

Dijelaskannya, kinerja investasi yang menjadi salah satu fokus utama Presiden Jokowi juga belum sesuai harapan. Dua tahun terakhir sudah melambat karena dampak pemilu sehingga orang wait and see, tapi nyatanya setelah usai juga masih lesu.

Hal lain disebutkan Trubus, Indonesia juga kalah cepat dari negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand dalam menarik investor Cina yang ingin merelokasi pabriknya sebagai imbas dari perang dagang.

“Ini tentu menyebabkan kegiatan usaha sektor riil belum sepenuhnya bangkit, yang tercermin dari pertumbuhan kredit perbankan yang tak sampai 7 persen di penghujung 2019. Padahal suku bunga acuan sudah turun, tapi permintaan kredit modal kerja untuk sektor perdagangan maupun manufaktur masih terbatas,” terangnya.

BACA JUGA:  Jalin Jaringan Regional, Garuda Indonesia Buka Rute Manado - Davao

“Stimulus sektor riil harus terus dilanjutkan untuk menggerakkan roda perekonomian dan mengerek kinerja investasi lebih optimal,” tambahnya.

Pos terkait