Wartaniaga.com, Banjarmasin – Stigma negatif yang melekat pada sekelompok masyarakat marginal yang menamakan diri sebagai Punk ternyata menjadi kendala sendiri bagi kaum anti kemapanan tersebut.
Seperti yang dialami oleh Juna dan kelompok punknya yang ada di Banjarmasin. Ia mengaku sering dipandang miring karena penampilannya yang dinilai kebanyakan orang seperti tak terurus.
cerita pilu anak pank
“Kami juga manusia biasa, warga Banjarmasin, bahkan kami tercatat secara administrasi sebagai masyarakat yang berkewarganegaraan Indonesia, jadi tolong lah jangan takut dengan kami,” ucap juna sambil memperlihatkan kartu identitas (KTP) miliknya.
Menurutnya stigma negatif tersebut sudah menjadi darah daging bagi kebanyakan warga. Pasalnya seringkali ia merasakan perlakuan diskriminatif yang diterimanya setiap kali ia berpapasan dengan warga sekitar.
Termasuk juga ketika Juna memulai wirausaha sablon untuk menutupi kebutuhan hidupnya, banyak warga yang nyinyir dengan keputusannya untuk membuka jasa tersebut.
“Seringkali kami dikatain dengan kata-kata kotor, mau ngapain para anak punk kerja disini bikin kotor aja, selain itu usaha yang kami bangun bahkan diusir oleh warga, padahal kami tidak pernah mengganggu,” ujarnya.
Ia menceritakan selama hidup didalam komunitas punk, dirinya merasa pemerintah setempat sangat kurang memberi perhatian terhadap mereka dan masyarakat kecil lainnya.
Selain itu, Bono yang juga termasuk dalam komunitas itu menceritakan pengalamannya ketika merantau ke daerah Majalengka, “disana komunitas punk ditampung oleh yayasan khusus anak jalanan dan diberi bekal untuk bisa hidup mandiri dengan cara membuka wirausaha sendiri. Sedangkan kalau di Kalsel khususnya di Banjarmasin sendiri saya belum menemukan hal seperti itu,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah tidak memandang kaum marginal ini sebagai penyakit masyarakat. “Bahkan, jika pemerintah bersedia merangkul, kami siap membantunya untuk mengarahkan teman-teman punk yang lainnya agar bisa hidup mandiri dan memiliki kehidupan yang layak sebagai warga negara,” ungkapnya.
Sementara itu Kabid Perlindungan Jaminan Sosial dan Penanganan Kemiskinan, Dinas Sosial (Dinsos) Kota Banjarmasin, Aep Ruhya mengatakan, fenomena anak punk memang menjadi perhatian tersendiri.
Pria kelahiran Jawa Barat ini menambahkan, terkadang pihaknya merasa kesulitan untuk mengatur atau membina komunitas tersebut. Pasalnya jiwa kebebasan yang mereka miliki sulit untuk menerima aturan yang harus ditaati.
Namun pihaknya mengaku membuka lebar bagi setiap warga Banjarmasin yang ingin diberi keahlian berwirausaha tanpa terkecuali, termasuk bagi komunitas Punk tersebut, dan ia siap bekerjasama dengan pihak terkait guna memberi pembinaan pada masyarakat Banjarmasin.
“Siapa pun yang ingin diberi bekal, kami siap membinanya, tapi dengan catatan mereka mau mengikuti aturan yang berlaku,” pungkasnya.
Reporter : Zakiri
Editor : Muhammad Zahidi
Foto : Zakiri




















