Generasi Milenial Rawan Terpapar Radikalisme

  • Whatsapp
uniska

Wartaniaga.com, Banjarmasin -Usia remaja menuju dewasa disebut usia yang berpotensi menjadi penganut paham radikal. Oleh sebab itu perlu langkah pencegahan agar paham yang bisa merugikan orang banyak itu bisa terbentengi.

Seperti yang dilaksanakan dalam forum Focus Group Discussion, membahas tentang radikalisme, teroris dan separtisme di Kampus Uniska, Rabu (18/12).
Menurut Ketua Lembaga Pengkajian Keislaman (LPK) Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al-Banjari, DR. Ir. H. Sanusi diadakannya kegiatan diskusi dapat memberi dorongan positif kepada mahasiswa dan para akademisi, khususnya di lingkungan Uniska untuk bisa membuka pola berpikir lebih luas lagi mengenai wawasan tentang ideologi yang bisa merusak kebhinekaan.

beri bekal tidak radikalisme

“Dengan adanya acara ini, para mahasiswa dan dosen yang ada disini bisa memahami bagaimana cara menanggulangi paham radikalisme yang mengincar para pemuda kita,” ucapnya.uniska no radikal

BACA JUGA:  Pilwali Banjarmasin, PKS Dorong Ibnu Sina 2 Periode

Ia melanjutkan, hasil diskusi tersebut akan dirangkum kedalam sebuah buku yang diharapkan bisa membuka wawasan dari para generasi milenial yang rentan dirasuki oleh paham-paham yang merugikan bangsa dan negara.

Sebelumnya, Hakim Tinggi Pengadilan Agama Kota Banjarmasin, H. Masruyani Syamsuri mengatakan, banyak aspek yang mempengaruhi seseorang bisa terjangkit paham radikal.

“Saya lebih senang menyebutnya dengan pola pikir ekstrimis, sebab paham radikaliisme, terorisme dan separatisme lahir dari pola pikir ekstrimis yang berkembang liar tanpa arah,” sebut Syamsuri.

Ia menjelaskan bahwasanya pola pikir tersebut sebenarnya bisa ditangani dari sumbernya. Pertama pihak keluarga harus memberi penjelasan secara jelas tentang apa yang dimaksud dengan jihad menurut pemahaman agama islam yang benar.

BACA JUGA:  Proyek Taman Edukasi, DPRD Merasa Tidak Dilibatkan

Kedua, para guru atau pengajar harus menanamkan kebhinekaan yang dimiliki bangsa indonesia ini sebagai anugerah, bukan hal yang harus di jadikan bahan permusuhan. Dan yang terakhir adalah individunya sendiri haruslah aktif mencari pendamping yang berkompeten sebagai guru untuk menjelaskan apa saja yang berkaitan dengan pola pikir yang Ekstrim tersebut.

Reporter : Zakiri
Editor : Hamdani
Foto : Zakiri

Pos terkait