Ibukota Baru Bukan Prioritas Utama Perekonomian Indonesia

  • Whatsapp
L

Wartaniaga.com, Banjarmasin – Pemindahan Ibukota Indonesia ke Kalimantan Timur yang digadang bakal menjamin perekonomian rakyat kedepannya itu justru dipandang berbeda bagi seorang pengamat perekonomian di Kalsel.

Menurut Monry Fraick Nicky Gillian Ratumbuysang, M.Pd, dosen muda yang mengajar di Universitas Lambung Mangkurat, Fakultas Ekonomi ini, pemindahan Ibukota bukan berarti menjadi prioritas utama perekonomian semata.

Hal itu karena memicu soal kesiapan masyarakat dalam menghadapi Ibukota baru baik dari culture baru, urbanisasi serta gaya hidup tinggi yang bertumbuh pada perekonomian di Kalimantan. Tak hanya itu terangnya, bukan hanya berpengaruh pada culture namun urbanisasi yang semakin tinggi akan mengakibatkan putra daerah tersingkir.

“Apabila urbanisasi terjadi siap-siap putra daerah tidak akan mendapatkan perkerjaan layak,” ujarnya kepada Wartaniaga.com di ruang kerjanya, Kamis (29/8).

BACA JUGA:  DEKRANASDA Kota Banjarmasin Gelar Dekrashow di Bandara Internasional Syamsudin Noor

Ia mengatakan lagi, untuk memperkuat dan menstabilkan ekonomi di Kalimantan harus dengan presentase minimal 60 persen yang mayoritasnya putra daerah sendiri.

“Ya, 60 persen putra daerah harus mendapatkan pekerjaan layak, tujuannya untuk mengatasi pengangguran di Kalimantan agar terciptanya kestabilan ekonomi disetiap daerah,” bebernya.

Pria yang akrab disapa, Monry ini juga menerangkan ke-stabilan ekonomi bukan terdapat pada Ibukota Indonesia tapi terdapat pada kekuatan putra daerah serta usaha yang menunjang kelangsungan hidup negara tetap berjalan seterusnya.

“Kita berharap di Kalimantan bukan hanya mengandalkan pendapatan batu baru saja, kekuatan putra daerah dan pabrik yang jadi tombak kelangsungan negara sebenarnya”, tutupnya.

Repoter : Mg 02
Editor : Hamdani
Foto : Mg 02

Pos terkait