Loading...
17 views

Distanhorbun Tanah Laut Adakan Temu Lapangan Petani Karet

Wartaniaga.com, Tanah Laut – Akibat pengaruh harga karet yang berfluktuatif usaha perkebunan karet beberapa waktu lalu sempat ditinggalkan para petani karet dan beralih kepada usaha lain yang lebih menguntungkannya. Sekalipun sebelumnya usaha karet tersebut merupakan komoditi tradisional yang turun temurun digarap patani.

Menyikapi fenomena yang terjadi di kalangan para petani, pihak Distanhorbun Tanah Laut adakan temu lapangan petani karet (4/7) yang melibatkan para petani, penyuluh dan stakeholder perkebunan, yang dilaksanakan di Desa Pemuda Pelaihari.

Kegiatan ini menghadirkan 3 orang narasumber dari DISTANHORBUN Tanah Laut, Edy Hariyadi Sp Kasi Produksi Perkebunan, Ery Suryani Sst Kasi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan dan Retno Nawang Sari Sp Kasi Perlindungan dan Perbenihan Perkebunan.

BACA JUGA:  Dispora Tala : Generasi Milenial Wajib Dapat Pembinaan Keagamaan

Kepala Unit Pelayanan Teknis Balai Penyuluh Pertanian ( UPT BPP ) Kec. Pelaihari H. Saidillah Sp mengatakan “Masalah yang di hadapi petani karet saat ini adalah masalah harga yang tidak stabil dan ketrampilan petani itu sendiri, oleh karenanya harap Saidillah, kegiatan ini dapat menjadi ajang musyawarah petani karet guna mengoptimalkan produk BOKAR (Bahan olah karet bersih), demi meningkatkan harga jual dan kualitas karet, disamping itu agar petani tidak lagi di permainkan oleh para pembeli/pengempul dalam menetapkan harga jual karetnya.

Dalam kegiatan ini juga akan di bentuk Unit Pemasaran dan Pengolahan Bokar, dari 11 Kecamatan tinggal 2 kecamatan yang belum terbentuk, yakni Kec.Pelaihari dan Kec.Takisung. Diharapkan dengan di bentuknya UPPB nantinya petani dapat mendapatkan informasi dan harga – harga karet setiap hari, jelas Saidillah.

BACA JUGA:  Harlantas Bhayangkara 64, Polres Balangan Gelar Baksos
Loading...

Sementara itu, Zainal Arifin salah seorang anggota kelompok tani mengatakan kepada Wartaniaga.com senang sekali dan terima kasih di adakannya kegiatan ini, karena bisa menambah wawasan dan pengetahuan tentang bagaimana meningkatkan dan mengoptimalkan produk Bokar, agar hasil karet kami bisa bernilai jual tinggi di pasaran, selain tidak boleh tercampur oleh kontaminan juga harus pakai parfum yang di rekomendasikan oleh pemerintah yakni deodoran ruber (pengharum karet ), selama ini kami biasa menggunakan pupuk urea sehingga aromanya menjadi kurang sedap ” ujar Zainal.

Reporter : Tony Widodo

Editor : Y Erwanda

Foto : Tony Widodo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *