Wartaniaga.com, Banjarmasin – Kunjungan ke PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk menjadi pengalaman berharga bagi rombongan Dewan Pengupahan Kalimantan Selatan.
Dari perusahaan yang tumbuh dari industri rumahan hingga menjelma sebagai salah satu industri herbal terbesar di Indonesia itu, tersirat pesan tentang ketekunan, inovasi, dan konsistensi dalam membangun usaha.
Kisah perjalanan Sido Muncul, bagi sebagian orang Banjar, mungkin cukup digambarkan dengan satu kata: “tugul” — sebuah ungkapan yang bermakna tangguh, ulet, dan pantang menyerah.
Berawal dari usaha rumahan di Yogyakarta pada 1940, kemudian berkembang di Semarang sejak 1951, Sido Muncul kini menjadi raksasa industri jamu dan farmasi modern yang memadukan warisan resep tradisional dengan teknologi produksi terkini.
Rombongan Dewan Pengupahan Kalsel yang berjumlah 39 orang dipimpin Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kalimantan Selatan, Irfan Sayuti, S.Sos., M.Si. Mereka berkesempatan melihat langsung aktivitas produksi di kawasan industri Sido Muncul yang berdiri di atas lahan sekitar 38 hektare dengan dukungan lebih dari 3.000 tenaga kerja.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan melihat bagaimana perusahaan mampu menghasilkan lebih dari 300 jenis produk, dengan beberapa produk unggulan yang telah dikenal luas seperti Tolak Angin dan Kuku Bima Ener-G. Produk-produk tersebut bahkan telah menembus pasar internasional dan diekspor ke lebih dari 30 negara, serta didukung jaringan usaha di Filipina dan Nigeria.
Tidak hanya kuat dari sisi produksi, Sido Muncul juga menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan. Perusahaan ini menjalin kemitraan dengan ribuan petani rempah lokal untuk menjaga ketersediaan bahan baku sekaligus memastikan kualitas mulai dari tingkat budidaya.
Dalam operasionalnya, Sido Muncul juga memanfaatkan sekitar 91 persen energi terbarukan berbasis biomassa. Limbah ampas produksi jamu tidak dibuang, melainkan dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar dan pupuk.
Turut hadir dalam kunjungan tersebut Ketua DPP APINDO Kalimantan Selatan, Winardi Sethiono. Dalam sesi dialog, Winardi menggali peluang kerja sama antara Sido Muncul dan Kalimantan Selatan, baik dalam pengembangan jaringan pemasaran produk maupun potensi kerja sama penyediaan bahan baku rempah dari petani lokal Banua.
Menurut Winardi, perjalanan panjang Sido Muncul menjadi bukti bahwa keberlangsungan sebuah perusahaan membutuhkan ketekunan dan konsistensi, Senin (6/7/2026).
“Ketugulan” atau ketekunan menjadi modal penting agar perusahaan mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan zaman. Hal itu, kata dia, telah dibuktikan Sido Muncul selama puluhan tahun.
“Sido Muncul layak menjadi tempat belajar bagi para pelaku usaha di Kalimantan Selatan. Ketahanan mereka dalam menghadapi persaingan menjadi contoh bagaimana sebuah industri bisa tumbuh dan berkembang,” ujarnya.
Ia menambahkan, Kalimantan Selatan sendiri pernah memiliki sejumlah industri jamu, meski masih menggunakan metode produksi tradisional dan semi modern. Pengalaman Sido Muncul dapat menjadi inspirasi untuk mengembangkan kembali potensi industri berbasis herbal di Banua.
Menutup rangkaian kunjungan, Irfan Sayuti menyampaikan apresiasi atas kesempatan yang diberikan kepada Dewan Pengupahan Kalsel untuk memperoleh pengetahuan langsung mengenai pengelolaan industri modern.
Menurutnya, Sido Muncul bukan hanya identik dengan slogan “Roso”, tetapi juga menggambarkan nilai “harat” dalam bahasa Banjar — bermakna hebat, kuat, dan memiliki daya juang tinggi dalam menghadapi persaingan global.
“Bagi Kalimantan Selatan, Sido Muncul adalah contoh perusahaan yang harat karena mampu bertahan, berkembang, dan terus berinovasi di tengah perubahan zaman,” ungkapnya.
Penulis : Noorhalis Majid
Editor : Eddy Dharmawan



















