Diah Yulianti’: Jejak Rindu Seorang Anak, Dari Kanvas ke Panggung Dunia

Diah Yuliyanti pelukis asal Banjarmasin dengan latar lukisan dikediamannya di Jogjakarta (Foto : EDH)

Wartaniaga.com, Jogjakarta – Lahir dari keluarga yang kental dengan dunia seni, Diah Yulianti tumbuh dalam naungan nilai-nilai kreativitas dan ketulusan. Sang ayah seorang guru seni sekaligus pelukis, sementara ibunya adalah guru sekolah dasar. Dari rumah sederhana itulah, kecintaan terhadap seni lukis mulai bersemi dalam diri perempuan yang akrab disapa “Yanti”.

Nama “Yanti” hanya diperuntukkan bagi orang-orang terdekatnya. Sementara “Diah” menjadi identitas yang ia gunakan sejak masa kuliah, sekaligus terpatri dalam setiap karya lukis yang ia hasilkan.

Saat ditemui di rumahnya yang juga berfungsi sebagai studio lukis di kawasan Jalan Affandi, Yogyakarta, Senin (13/4), Yanti mengenang perjalanan hidupnya dengan mata yang tak jarang berkaca-kaca.

Sejak kecil, bakat melukisnya telah ditempa langsung oleh sang ayah, lulusan ASRI—yang kini dikenal sebagai Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Dorongan terbesar datang setelah ia menyelesaikan pendidikan di SMAN 3 Banjarmasin.

“Bapak membebaskan semua anak-anaknya dalam mengejar cita-citanya. Profesi sebagai pelukis adalah cita-cita saya sejak kecil, dan bapak dan mama mendukung atas pilihan saya,” ujarnya.

Tahun 1992 menjadi awal langkahnya menempuh pendidikan di ISI. Namun perjalanan itu tidak mudah.
“Orang tua selalu ngajarin apa yang sudah menjadi keyakinan dan pilihan sebagai tanggung jawab,” lanjutnya.

Dikelas walaupun ia satu-satunya perempuan, menurutnya dalam hal pendidikan tidak ada perbedaan. Ia yakin dengan pilihan dan tujuan sebuah profesi yang kita pilih.

Keraguan itu sempat ia ungkapkan kepada sang ayah. Namun jawaban yang ia terima justru menjadi penguat hidupnya.

“Tenang nak, karena kamu satu-satunya perempuan, kamu pasti disayang banyak orang.”

Kalimat sederhana itu terbukti benar. Yanti merasakan banyak tangan-tangan baik yang membantunya bertahan hingga menyelesaikan studinya.

Namun takdir berkata lain. Tahun 1996, sang ayah berpulang. Kepergian sosok yang selama ini menjadi guru, sahabat, dan tempat bersandar, meninggalkan luka yang begitu dalam.

Yanti pulang dengan hati hancur. Dunia yang dulu terasa hangat, mendadak menjadi sunyi. Bahkan sosok ibunya yang dulu tegas, kini berubah lebih lembut dan seakan membiarkan Yanti mencari jalannya sendiri.

Hampir setahun lamanya, ia tenggelam dalam pencarian jati diri. Hingga akhirnya, sebuah perjalanan spiritual membawanya ke pedalaman Kalimantan Selatan, tepatnya ke komunitas Suku Dayak Bukit di Loksado, Kandangan.

Di sana, Yanti menemukan makna kehidupan yang baru. Ia menyaksikan bagaimana masyarakat hidup selaras dengan alam, menjalani ritual tanam hingga panen sebagai bentuk syukur kepada Sang Pencipta.

“Pengalaman itu membuat saya percaya, setiap kebaikan pasti akan dibalas dengan kebaikan,” ungkapnya penuh haru.

Perjalanan tersebut menjadi titik balik. Awal 1997, Yanti bangkit dan kembali melanjutkan kuliahnya. Setahun kemudian, ia berhasil menyelesaikan pendidikan di ISI.

Kini, perjalanan panjang penuh luka, rindu, dan harapan itu berbuah manis. Karya-karya lukis Yanti telah melanglang buana, dikoleksi oleh para pecinta seni hingga ke mancanegara.

Tak hanya itu, ia juga kerap diundang dalam berbagai pameran, baik di dalam maupun luar negeri, bahkan dipercaya menjadi pembicara untuk membagikan kisah dan makna di balik setiap goresan karyanya.

Bagi Yanti, melukis bukan sekadar seni. Ia adalah bahasa hati—tentang rindu kepada orang tua, tentang luka yang disembuhkan, dan tentang harapan yang terus hidup di setiap warna.

Editor : Eddy Dharmawan

Pos terkait