Wartaniaga.com, Kotabaru – Halaman Kantor Bupati Kotabaru, Senin (19/1) pagi, tak sekadar menjadi panggung seremonial. Di bawah langit Bumi Saijaan, Apel Hari Kesadaran Nasional (HKN) perdana tahun 2026 itu digelar sebagai ajang “cuci muka” birokrasi.
Ini bukan sekadar rutinitas penggugur kewajiban, melainkan lonceng pengingat bagi para abdi negara untuk menanggalkan zona nyaman dan memacu mesin pelayanan publik.
Wakil Bupati Kotabaru, Syairi Mukhlis, berdiri di podium dengan nada bicara yang tak basa-basi. Di hadapannya, barisan Sekretaris Daerah, para staf ahli, hingga pejabat Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) menyimak dengan saksama.
Kehadiran ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan tenaga honorer dalam barisan yang rapi itu seolah ingin mengirim pesan, birokrasi Kotabaru siap berlari menghadapi tantangan pembangunan tahun ini.
Mewakili pimpinan daerah, Syairi tak pelit memberikan apresiasi atas rapor kerja sepanjang 2025.
Namun, pujian itu disusul peringatan keras agar tak ada yang terlena dalam euforia prestasi masa lalu.
Baginya, tahun 2026 menuntut paradigma baru. Dinamika masyarakat Kotabaru yang kian kompleks tak lagi bisa dihadapi dengan cara-cara usang yang lamban.
“Kita sudah menutup buku tahun 2025 dengan segala dinamikanya,” ujar Syairi.
Ia menegaskan bahwa komitmen tunggal pemerintah tahun ini adalah memastikan kehadiran negara dirasakan langsung oleh masyarakat. Tahun baru, menurut dia, harus menjadi bahan bakar bagi motivasi yang lebih besar dalam melayani daerah.
Ada enam mandat utama dari Bupati Kotabaru yang dititipkan melalui bibir Syairi. Pertama, ASN wajib memeras seluruh potensi demi pelayanan prima.
Tak boleh ada lagi sekat-sekat ego sektoral antar-instansi, solidaritas adalah harga mati.
Ia juga menuntut aparatur yang tak gagap teknologi mereka harus kreatif, berinisiatif tinggi, dan terus melahirkan inovasi di tengah arus digitalisasi.
Syairi kemudian membedah filosofi kerja yang ia sebut sebagai lima pilar, keras, cerdas, ikhlas, tuntas, dan berkualitas.
Namun, semua itu mustahil tanpa revolusi mental. Pola pikir dan pola tindak harus bergeser secara radikal. Di era ini, PNS bukan lagi priayi yang minta dilayani, melainkan pionir kedisiplinan dan etika kerja di instansinya masing-masing.
Persoalan teknis pun tak luput dari bidikan. Wakil Bupati meminta setiap ASN kembali “turun ke bumi” dengan mendalami tugas pokok dan fungsinya (tupoksi).
Terutama bagi unit yang berada di garda depan pelayanan publik. Baginya, kualitas kinerja adalah sesuatu yang harus terus divalidasi dan diperbarui agar standar pelayanan di Kotabaru tetap berada di level tertinggi.
Menutup arahannya, Syairi membuka ruang dialog. Ia mendorong adanya arus komunikasi dua arah, staf tak perlu sungkan menyodorkan masukan kritis kepada atasan demi perbaikan kebijakan.
Sebagai langkah konkret, ia menginstruksikan seluruh kepala SKPD untuk segera membedah dan mengevaluasi program kerja 2026 agar setiap rupiah anggaran benar-benar tepat sasaran.
Apel pagi itu pungkas dengan doa bersama di bawah cuaca yang cerah. Sebuah harapan besar digantungkan, agar gerak pembangunan tahun ini berjalan tanpa hambatan, membawa Kotabaru bertransformasi menjadi daerah yang tak hanya mandiri, tapi juga sejahtera di setiap sudutnya.
Reporter: Anaq.
Editor: Hariyadi




















