Dari Barabai ke Jogja–Bali: Jejak Perjuangan Soegian Noor, Pelukis yang Setia pada Mimpi

Soegian Noor dengan latar lukisan Realistik Expressif di rumah Studio lukisnya di Jogjakarta (Foto : EDH)

Wartaniaga.com, Jogjakarta – Bagi Soegian Noor, melukis bukan sekadar hobi, melainkan panggilan jiwa yang telah tumbuh sejak ia duduk di bangku Sekolah Dasar. Dari kota kecil Barabai, Kalimantan Selatan, langkahnya perlahan membawa dirinya menapaki dunia seni hingga dikenal sebagai pelukis yang eksis di Jogjakarta dan Bali.

Perjalanan hidupnya tidak selalu mulus. Usai menamatkan pendidikan SMA pada tahun 1985 di Barabai, Soegian sempat melanjutkan studi ke ASMI Banjarmasin. Namun, hanya bertahan satu tahun, ia memutuskan kembali ke kampung halaman karena merasa tidak cocok. Ia kemudian mencoba peruntungan di Akademi Koperasi di Barabai, tetapi lagi-lagi hatinya tak menemukan tempat berlabuh.

Tak ingin terus terjebak dalam kebimbangan, Soegi—sapaan akrabnya—memilih merantau ke Jogjakarta pada tahun 1989. Kota pelajar itu menjadi titik balik hidupnya. Meski belum langsung berkuliah, ia terlebih dahulu menimba ilmu dari seorang mentor sekaligus orang tua angkatnya, Ifansyah, yang juga berasal dari Barabai.

“Beliau yang mengenalkan saya dengan ISI. Waktu itu bahkan sampai membagikan brosur ke Barabai,” kenang Soegi.

Setelah merasa cukup siap secara mental dan ekonomi, Soegi akhirnya resmi masuk Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta pada tahun 1990. Perjuangan pun dimulai. Di tengah keterbatasan, ia harus membagi waktu antara kuliah dan bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup.

Dengan tekad kuat dan ketekunan, Soegi berhasil menuntaskan studinya pada tahun 1997. Sempat mengabdikan diri sebagai guru di sebuah Sekolah Dasar di Jogjakarta selama hampir dua tahun, ia akhirnya menyadari bahwa panggilan sejatinya adalah melukis. Ia pun memilih meninggalkan profesi sebagai pengajar dan sepenuhnya menekuni dunia seni.

Langkah berani itu membawanya ke Bali, di mana ia bersama rekan seprofesinya membuka galeri seni. Di Pulau Dewata pula, ia membangun kehidupan bersama keluarga. Meski demikian, Jogjakarta tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya.

“Alhamdulillah, sebelum pandemi Covid-19, tahun 2019 saya bisa membeli rumah di Jogja yang sekaligus dijadikan studio dan tempat tinggal,” ujarnya.

Sebagai pelukis profesional, Soegi aktif mengikuti berbagai pameran. Ia mengungkapkan bahwa dalam dunia seni, kerja sama dengan penyelenggara pameran menjadi hal yang umum, dengan pembagian keuntungan berkisar antara 25 hingga 40 persen.

Ia juga menyadari bahwa dinamika sosial, termasuk kondisi politik, turut memengaruhi penjualan karya seni. Kolektor dari luar negeri masih menjadi pasar utama bagi lukisan-lukisannya.

Mengusung gaya realistik ekspresif, karya Soegi kerap disandingkan dengan gaya pelukis legendaris Affandi. Dalam setiap goresannya, tersimpan emosi, pengalaman, dan perjalanan panjang hidupnya.

Di balik kesuksesannya, Soegi tetap menyimpan pesan sederhana namun mendalam bagi generasi muda, khususnya dari daerah asalnya.

“Beranilah mewujudkan cita-cita dan bakat. Apa pun usia dan kondisi, saya akan tetap berkomitmen untuk terus berkarya sebagai pelukis,” tegasnya.

Kisah Soegian Noor adalah bukti bahwa jalan hidup tak selalu lurus. Namun dengan keberanian, ketekunan, dan kesetiaan pada mimpi, setiap langkah—sekecil apa pun—akan membawa kita lebih dekat pada tujuan.

Editor : Eddy Dharmawan

Pos terkait