Wartaniaga.com, Banjarmasin- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belakangan ini terus melemah, tercatat pada 7 April 2025 lalu rupiah sempat menyentuh rekor terendah di level Rp 17.261 per dolar AS. Meski keesokan harinya, data Wise mencatat kurs di angka kembali naik menjadi Rp 16.892,50 per dolar AS.
Melemahnya mata uang Garuda ini menimbulkan kekhawatiran di berbagai sektor ekonomi. Dan akan berdampak pada 81386daya beli masyarakat Indonesia.
Menurut salah seorang Ekonom Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Lambung Mangkurat ( ULM), Sudirwo, SE, MM, nilai tukar rupiah seperti ini pasti akan berdampak pada daya beli masyarakat.

“Masih banyak produk dan komunitas kita yang import jadi barang-barang itulah yang pasti akan naik harganya,” katanya.
Meski demikian ia memberi apresiasi terhadap langkah pemerintah Prabowo dengan mengirimkan delegasi untuk negosiasi ke Pemerintahan Amerika Serikat.
” Dengan pertemuan tersebut tarif impornya ke Indonesia 32 persen ditahan dulu, karena masih belum ada pemberlakuan. Ini langkah yang baik”, ujar Sudirwo, Rabu (16/04/25).
Dirinya menambahkan dampak kelemahan ini sangat besar bagi masyarakat Indonesia.
Barang impor dari Amerika khususnya berupa otomotif dan elektronik akan naik.
” Sebaliknya, produk ekspor yang dikirim ke Amerika justru murah, sehingga tak sedikit pengusaha Indonesia menahan barangnya untuk diekspor”, ucapnya.
Sementara itu, guru besar Ilmu Manajemen FEB ULM, Prof.M.Handry Imansyah menilai, turunnya daya melalui transmisi _imported inflation._ akibat masih banyak komoditas pangan yang masih impor.
“Seperti beras, kedelai, daging. Ini otomatis akan terjadi kenaikan. Itu komoditas hajat hidup orang banyak. Belum lagi barang-barang lainnya untuk konsumen menengah ke atas. Jadi dengan inflasi yang melalui barang impor akan menurunkan daya beli masyarakat”, jelasnya.
Menurutnya Pemerintah harus mengambil kebijakan untuk mampu meningkatkan produktivitas dengan menyederahanakan semua birokrasi izin dan prosedur untuk membuka usaha sehingga investasi meningkat dan segala biaya turun.

Prof.M.Handry juga menjelaskan rupiah melemah tentu akan meningkatkan daya saing komoditas ekspor Indonesia.
“Menggalakkan ekspor karena melemahnya rupiah akan meningkatkan daya saing komiditas atau barang ekspor Indonesia. Selain itu membuka pasar baru negara tujuan ekspor supaya lebih tersebar dan mengurangi ketergantungan pada beberapa negara saja”, tutupnya.
Reporter : Sephia Aprilian Pradini
Editor : Aditya



















