Ketua JPKP : Normalisasi Sungai Harus Transparan

Winardi Sethiono Ketua JPKP diruang kerjanya ( Foto : Ist)

Wartaniaga.com, Banjarmasin – Pekerjaan Normalisasi Sungai di seluruh Kota Banjarmasin, yang mendapatkan bantuan dari Bank Dunia, sangat disyukuri, tapi pelaksanaannya secara transparan dan rencana-rencananya harus dishare pada warga Banjarmasin, karena kehidupan mereka banyak di Pinggir Sungai.

Demikian disampaikan Winardi Sethiono, Ketua Jaringan Pendamping Kebijakan Pembangunan (JPKP) Kalimantan selatan, Kamis (13/7) sore, menyoroti kondisi Sungai hingga Normalisasi Sungai saat ini.

Ia mengingatkan dalam pekerjaan jangan diambil keuntungannya, pencitraaannya, apalagi masyarakat yang pandai yang tidak kena dibohongi dan tidak kena buaian, harus disyukuri hal ini.

Menurutnya, masyarakat sangat mendukung dan berterimakasih kalau ada pihak dari Pemerintah yang ingin membangun Kota Banjarmasin sebagaimana layaknya.

“Dan itu didukung oleh masyarakat. Namun jika ada protes, berarti ada kesalahan atau kekeliruan,” ujar Winardi saat berada di sekretariat JPKP Kalsel di Banjarmasin.

Kemungkinan ada kesalahan atau kekeliruan lanjutnya, para pihak atau dari Pemerintah. “Mungkin masalah transparansi, karena ada beberapa pihak yang mengajukan ke Pemerintah Pusat satu pekerjaan, satu proyek, namun dibelakang itu orang-orangnya sendiri yang mengerjakannya,” ungkap Winardi.

Dia juga menyebutkan, proyek pencitraan juga menjadi perhatian masyarakat, yang harus diperhatikan oleh pihak terkait.

Menyangkut program Normalisasi Sungai, Winardi mengingatkan, agar melibatkan kontraktor atau Tenaga Ahli yang studinya di daerah, bukan di Luar Negeri.

“Karena kultur tanah Banjarmasin berbeda dengan Banjarbaru, apalagi dengan daerah lain dan sangat berbeda dengan Luar Negeri, yang dibuat seperti Venesia, itu terlalu jauh,” sambungnya.

Dikatakan Winardi, sejak kecil dia tinggal di pinggir sungai dan sangat mengetahui fungsi-fungsi sungai.

“Apalagi terakhir yang mendapat kritik dari masyarakat adalah pengecilan sungai, pelebaran jalan, itu bukan solusi yang baik saya rasa,” ucap Winardi.

Ia menyebutkan alasan, jika ingin mengembalikan fungsi sungai, harus dilebarkan sungai tersebut sesuai kondisi semula.

Selain itu, sungai harus dibuat dalam, seperti pengalaman dirinya waktu dulu untuk Sungai veteran beberapa tahun lalu. Saat sungai dalam, dan berdiri di tengah-tengah sungai, kedalamannya sekitar 2 sampai 2 meter lebih.

“Hal itu berbeda dengan kondisi kedalaman sungai saat ini, yang dirasanya hanya merupakan sebuah parit, karena kedalamannya yang jauh berkurang,” imbuhnya.

Winardi juga menyoroti tentang pembuatan Pintu Air, karena menurutnya dari pembelajaran Pintu Air yang ada di Sungai Tatas di belakang Mesjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin, walaupun pintu air ditutup, tapi air masih bisa masuk karena bergerak lewat bawah tanah, dan itulah bedanya konturnya Tanah Humus.

“Kalau kita bendung supaya tidak masuk, dari tanah naik. Waktu surut, pintu air tidak terbuka, air lama turunnya. Sehingga menambah parah kondisi tersebut, dan masalah ini perlu didalami,” ujar Winardi mengingatkan.

Editor : Eddy Dharmawan

Pos terkait

banner 468x60