Menelusuri Jejak Pangeran Hidayatullah

  • Whatsapp
Jurnalis Wartaniaga.com, Edi Darmawan saat berziarah ke makam Pangeran Hidayatullah

Wartaniaga com, Banjarmasin – Pangeran Hidayatullah lahir di Martapura Kalimantan Selatan pada tahun 1822 M, beliau putera dari Sultan Muda Abdurachman dan cucu dari Sultan Adam Alwasikibillah.

Disahkan menjadi Sultan Banjar berdasarkan surat wasiat Sultan Adam tanggal 12 Safar 1259 H / 1855 M (de jure) dan dinobatkan oleh rakyatnya (de facto) dengan gelar “Al Sulthan Hidayatullah Alwasikibillah” di Banua Lima ketika perang Banjar berkobar dengan dahsyat pada tahun 1859 – 1862 Masehi. (Buku : “De Banjarmasinche Krijg” ).

Perang Banjar adalah perang antara dua kerajaan : Kesultanan Banjar dan Kerajaan Belanda akibat dari kelicikan, keserakahan dan keangkuhan Kolonial Belanda dengan campur tangannya yang terlalu dalam terhadap urusan Kesultanan Banjar.

BACA JUGA:  Ada 300 an WNI yang Berhaji Tahun ini, Cek Faktanya

Pangeran Hidayatullah sebagai “Sosok Utama” dan “Panglima Perang” menyusun strategi perang medan luas dari Mandala Selatan hingga Utara meliputi : Martapura, Banua Lima tanah Dusun, secara sporadis dengan menyertakan seluruh potensi dan kekuatan perlawanan rakyat.

Puncaknya adalah kedahsyatan perang “Fisabilillah Beratib Beramal” di Banua Lima dengan besarnya pengorbanan nyawa, bersemboyan perang : “Dalas hangit, waja sampai kaputing”.

Kerajaan Belanda mengerahkan pasukan gabungan antara marinir, infantri serta armada perang yang tangguh dan bergerak hingga ke jantung pertahanan Pangeran Hidayatullah di Banua Lima dan Tanah Dusun. Belanda memberi julukan “Hoofdop standeling (Kepala Pemberontak) serta memberikan hadiah untuk penangkapan Pangeran Hidayatullah baik hidup ataupun mati.

L

Pos terkait