Manusia-Manusia Telanjang

  • Whatsapp
Dhimam Abror Djuraid, wartawan senior

Wartaniaga.com-Gisel Anastasia mendadak menjadi selebritas paling menyedot perhatian dalam beberapa minggu ini. Bukan karena kerja keseniannya tapi karena ketelanjangannya.

Ia, iseng memvideo hubungan seksual extra marital dan video itu kemudian menyebar

kemana-mana dan sekarang dia menjadi tersangka.

Seorang selebritas tepergok sedang menjajakan layanan seksual di hotel bersama laki-laki kostumernya dan mucikari yang menjajakan layanan seksualnya secara online.

Dunia selebritas Indonesia lebih ramai dengan berita keterlibatan artis-artisnya

dalam aktivitas prostitusi online daripada kerja-kerja seni. Para selebritas lebih sering muncul di media karena tertangkap lagi nyabu daripada memamerkan karya-karya seninya.

Selebritas yang tertangkap karena prostitusi wajahnya disembunyikan dengan ketat dari kamera dan namanya dilindungi dengan hanya menyebutkan inisialnya saja.

BACA JUGA:  Sudahkah Hak Pemilih Disabilitas Dipenuhi ?

Kehormatan, privasi, dan harga diri para pelaku prostitusi online itu begitu pentingnya, sampai wajah dan namanya tidak boleh disiarkan ke publik.

Sementara itu, beberapa aktivis politik yang dianggap melakukan tindakan oposisi yang menentang kekuasaan, banyak di antaranya dikategorikan sebagai ulama atau pemimpin umat,

ditangkap dan dipamerkan kepada publik secara telanjang.

Wajah mereka tidak disembunyikan dari kamera, dan nama mereka tidak dirahasiakan dengan penyebutan iniasialnya saja. Malah tangan mereka diborgol dan dipamerkan ke publik lengkap dengan rompi tahanan berwarna mencolok.

Mereka adalah musuh-musuh negara yang boleh dikorbankan dan bahkan dibunuh. Enam orang anggota FPI (lama) tewas terbunuh dan seolah-olah pembunuhan itu dilegitimasi karena keenam orang itu adalah manusia telanjang yang tidak terlindungi hukum.

BACA JUGA:  Makan Berbuka Puasa yang Diwaspadai

Filosof Italia, Giorgio Agamben memperkenalkan manusia telanjang dalam

“Homo Sacer, Sovereign Power and Bare Life (1998)” (Edisi terjemahan, 2020). Ia menggambarkan ketelanjangan manusia dan ketidakberdayaannya menghadapi hukum kekuasaan. Para korban yang tidak berdaya di depan hukum itu adalah “homo sacer” manusia-manusia telanjang yang tidak terlindungi dari tekanan kekuatan hukum kekuasaan.

Pos terkait