“Semua ukuran sudah termasuk dengan tanaman hidroponik dan bibit ikan, jadi dapat langsung digunakan. Ikannya bisa lele atau patin, kedepannya kita juga sediakan bibit ikan nila. Hanya saja, untuk ikan nila harus menggunakan aerator agar menghasilkan gelembung udara, sehingga airnya kaya akan oksigen terlarut. Pasalnya, ikan nila lebih rentan mati,” imbuh Rahmat.
Untuk mesin aerator, lanjut Rahmat, dikenakan biaya tambahan lagi, diluar harga paket media aquaponik dan hidroponik
Selama menjalankan usahanya, Rahmat memberdayakan tenaga remaja-remaja yang ada di kompleknya. Bahkan, ini menjadi lapangan pekerjaan baru bagi mereka di masa pandemi.
Hingga saat ini, sebut Rahmat, tak kurang 250 buah ember berbagai ukuran sudah terjual. Tidak menutup kemungkinan, usaha baru yang dijalaninya ini akan berkembang lebih luas lagi, mengingat pembelinya tak hanya berasal dari kota Banjarmasin saja.
Apalagi, disisi lain, aktivitas berkebun di perkotaan dengan lahan terbatas atau urban farming ini bisa menjadi aksi adaptif dan hobi baru, yang dapat dilakukan oleh siapa saja di tengah pandemi.
Reporter : Ahmad Syarif
Editor : Aditya




















