“ Teknologi ini dulunya lebih dikenal dengan sebutan hujan buatan dan BPPT yang ada sejak tahun 1979 sudah sering melakukan ini untuk mengisi waduk saat sawah para petani kekeringan. Tapi sekarang teknologi ini juga akan kita aplikasikan guna mencegah karhutla,” papar Yudi.
Dikatakannya, meskipun curah hujan tinggi masih terjadi sebagaian Sumatera dan Kalimantan seperti Aceh, Sumut, Riau dan Kalbar, Kasel bagian timur, Kalteng bagian barat serta Kaltim bagian selatan, sebaliknya curah hujan rendah sudah terjadi di Jakarta, Banten, Jateng, NTT, sebagian besar Sulawesi hingga Papua.
Melihat kondisi ini, sambung Yudi pihak sudah menyiapkan berbagai upaya pencegahan, monitoring cuaca dan analisa wilayah. “ Kami sudah siap melakukan modifikasi cuaca guna mencegah terjadinya karhutla yang lebih luas. Terlebih lagi wabah covid-19 belum berakhir, jangan sampai musibah ini bertambah dengan karhutla,” harapnya.
Sementara itu, Direktur Dukungan Sumber Daya Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPN), Jarwansyah mengatakan status keadaan darurat karhutla tahun 2020 terdapat di Sumatera dan Kalimantan.
“ Ada 6 provinsi yang harus diwaspadai pada tahun ini, yakni Riau, Jambi, Sumsel, Kalbar, Kalteng dan Kalsel, semuanya berstatus siaga darurat,” ucapnya.



















