Diskominfo HSU Konsisten Sosialisasikan Pencegahan Corona melalui Dialog

  • Whatsapp

Wartaniaga.com, Amuntai – Dinas Komunikasi dan Informatika kembali lakukan pencegahan penyebaran Covid-19 melalui dialog interaktif bersama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pambalah Batung Amuntai.

Dialog Interaktif kali ini dengan tema Pemulasaran Jenazah Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah(RSUD) Pambalah Batung Kabupaten Hulu Sungai Utara(HSU).

Pembimbing Rohani Islam di RSUD PB Amuntai, H Ahmad Nawawi abdurrauf mengatakan topoksinya sebagai pembimbing Rohani Islam dilaksanakan terjadwal setiap Senin dan Kamis, apabila ada permintaan atau dalam kondisi darurat siap 24 jam.

“Umpamanya pada saat pasien saat skaratul maut kita di telpon siap untuk datang, jenazah yang terpapar kita tangani secara khusus,'” ucapya.

Nawawi menjelaskan Ketentuan Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 angka 7 yang menetapkan Pengurusan jenazah (tajhiz al-jana’iz) yang terpapar Covid-19, terutama dalam memandikan dan mengafani harus dilakukan sesuai protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang, dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat.

BACA JUGA:  Siapkan Pengamanan Natal dan Tahun Baru, Polisi HST Gelar Operasi Lilin Intan

Sedangkan untuk menshalatkan dan menguburkannya dilakukan sebagaimana biasa dengan tetap menjaga agar tidak terpapar Covid-19.Pedoman memandikan jenazah yang terpapar COVID-19 dilakukan sebagai berikut:
– Jenazah dimandikan tanpa harus dibuka pakaiannya.
– Petugas wajib berjenis kelamin yang sama dengan jenazah yang dimandikan dan dikafani.
– Jika petugas yang memandikan tidak ada yang berjenis kelamin sama, maka dimandikan oleh petugas yang ada, dengan syarat jenazah dimandikan tetap memakai pakaian. Jika tidak, maka ditayammumkan.
– Petugas membersihkan najis (jika ada) sebelum memandikan.
– Petugas memandikan jenazah dengan cara mengucurkan air secara merata ke seluruh tubuh.
– Jika atas pertimbangan ahli yang terpercaya bahwa jenazah tidak mungkin dimandikan, maka dapat diganti dengan tayamum sesuai  ketentuan syariah jika menurut pendapat ahli yang terpercaya bahwa memandikan atau menayamumkan tidak mungkin dilakukan karena membahayakan petugas, maka berdasarkan ketentuan dharurah syar’iyyah, jenazah tidak dimandikan atau ditayamumkan.

Pos terkait