Mengecap Bisnis Asinan Beromset Jutaan

  • Whatsapp

Wartaniaga.com,Martapura- Rujak buah terasa tidak nikmat apabila tidak ditemani garam asinan atau yang lebih dikenal masyarakat banjar dengan uyah asinan. Nikmatnya uyah asinan sebagai pasangan dari berbagai macam buah-buahan mengilhami Khairullah untuk mengemas dan menjual produk yang biasanya hanya sebagai pelengkap rujak buah ini.

Berawal dari hobinya makan asinan dan rujak, Khairullah mencoba membuat uyah asinan dengan cara dan kreasinya sendiri. Tidak tanggung-tanggung, hampir 1 tahun dirinya mencoba meramu bumbu yang tepat agar bisa dijual ke pasaran.

Hasilnya, terciptalah produk uyah asinan yang kemudian diberi merk Uyah Pencok Manalagi. Bahkan produksinya ini bukan semata-mata digunakan sebagai pelengkap rujak tetapi bisa juga untuk bahan campuran membuat nasi goreng, sayur oseng serta penyedap makanan.

BACA JUGA:  Cerita Amat, Beli Mobil dari Hasil Rongsokan

Ia mengaku dalam sebulan bisa menghabiskan ratusan botol dengan omset jutaan rupiah. “ Pembeli kami kalau yang offline masih sekitaran kota Martapura dan Banjarbaru, tetapi  kalau yang online sudah sampai ke Kotabaru dan bahkan ke pulau Jawa,” katanya kepada wartaniaga.com, Jum’at (29/5) sore.

Dikemas dalam botol berukuran 80 gram, Uyah Pencok Manalagi bisa bertahan hingga satu tahun. Inilah yang membuat, Khairullah berani menjual dan mengirim hingga keluar pulau.

“ Demi menjaga kepercayaan pembeli kami selalu menggunakan bahan yang nomor wahid  dengan campuran bumbu rahasia, sehingga rasa dan   kualitasnya tetap jaga,” ungkap pria yang juga berprofesi sebagai guru pada salat satu sekolah dasar di kota Banjarbaru ini.

BACA JUGA:  5 Bisnis Pilihan Pasca Lebaran

Sementara itu, Putri, owner Uyah Acan  Putri Banjar, mengaku produknya ini laris manis dipasaran karena memencok ( rujak) adalah salah satu kesukaan masyarakat Banjar.

“ Saat itu kesulitan mencari garam yang benar-benar sudah ready untuk memencok, akhirnya ada inisiatif untuk membuat sendiri dan dijadikan usaha sampingan, karena pasti banyak orang-orang yang suka,” ucapnya.

Menurut Putri, teknik pejualan yang ia lakukan bekerjasama dengan toko-toko, minimarket, pusat oleh-oleh dan online.

“ Bisa dijual online melalui sosmed dan juga titip di toko-toko, minimarket serta pusat oleh-oleh khas Kalimantan,” paparnya seraya menambahkan jika pada hari Minggu dirinya membuka lapak di cars free day depan kantor Gubernur Kalsel dan lapangan Murjani Banjarbaru.

BACA JUGA:  Produk Pilihan Masih Bisa Jadi Andalan

Meski tidak merinci omset yang diperolehnya setipa bulan, Putri mengaku jika ratusan botol setiap bulannya habis terjual dengan harga Rp 10.000 per botol.

Reporter : Nurul Fata

Editor : Didin Ariyadi

Pos terkait