Untuk mereka yang bergaji tetap, mungkin ini tidak masalah karena mereka tinggal debet saja atau kredit saja apa yang akan mereka beli. Berbeda dengan masyarakat yang pola penghasilannya tidak formal namun berjibaku dengan perjuangan dari hari ke hari. Pedagang asongan misalnya mereka pasti akan kesulitan di masa pandemic ini sebab jajanan sekolah yang biasa mereka jual pada para murid kini sudah tidak bisa lagi karena sekolah diliburkan dan siswa mulai dengan kebiasaan baru belajar dari rumah.
Driver kendaraan umum dan ojol juga mendapat imbas dari krisis ini. Intinya mereka yang bekerja di jalur formal masih aman, namun mereka yang bekerja di jalur informal ngeri-ngeri sedap menghadapi masa krisis akibat datangnya Mr. Coro di negeri kita. Belum lagi dunia usaha dalam ruang yang lebih luas seperti misalnya kasus Ramayana Depok yang terpaksa merumahkan karyawannya, itu baru sebuah contoh, belum lagi jasa perhotelan yang sepi costumer yang juga dihadapkan pada pilihan untuk merumahkan sebagian karyawannya. Gelombang PHK akibat pandemic Covid 19 menjadi sebuah fenomena kegelisahan public terhadap nasib mereka dan masa depannya, setidaknya untuk tahun ini. Walau sebagian pengusaha atau pedagang sedang resah dan gelisah, masih terdapat geliat ekonomi yang kita cermati yakni untuk mereka yang banting stir dari usaha apapun sebelumnya menjadi penjual barang kebutuhan masa pandemic, misalnya menjual masker, sanitizer, sabun dan barang penyerta lainnya yang memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.
Dari Sisi Lingkungan hal pertama yang harus saya sampaikan disini adalah limbah medis. Bisa kita bayangkan berapa ton limbah medis yang dihasilkan dari suatu masa pandemic. Dan itu pasti bertebaran di TPA-TPA atau TPS-TPS resmi, belum lagi yang liar. Kita baru berbicara sampah dan limbah medis, belum lagi berbicara mengenai dampak Covid 19 untuk Air dan Udara. Memang diakui bahwa berkurangnya operasional transportasi menyebabkan polusi juga berkurang, program langit biru yang kita harapkan, mendekati terwujud. Namun problem lain pun dimulai disaat kita mengetahui bahwa Covid 19 adalah airborne, dapat menyebar melalui udara, dari bersin dan percikan. Ini membuat kita agak takut dikala kita berada diruangan tertutup misalnya, lalu ada yang bersin kita pasti curiga dan nafas kita otomatis tertahan, belum lagi semilir udara AC disekitar kita pastinya juga berpotensi melakukan penularan. Tidak bebas lagi dalam menghirup udara adalah dampak tidak mengenakkan dari kehadiran Covid 19 ditengah kita.
















