Meski diakuinya tahun ini tidak seramai tahun- tahun sebelumnya tapi setiap orang rata-rata memesan 2 liter padanya.
” Sesuai pesanan, setiap kali memproduksi sekitar 5 sampai 8 liter ketan, mininal pemesanan 2 liter,” ucap Endang.
Menurut mereka, sejarah Tapai gambut berawal dari masyarakat Hulu Sungai yang berdiam di daerah Gambut. Mereka membuat tapai sebagai salah saah satu cemilan saat hari- hari besar dan perayaan keagamaan.
Karena rasanya yang nikmat hingga banyak disukai masyarakat, maka hingga saat ini tapai gambut menjadi salah satu icon kecamatan yang berjarak 8 kilometer dari kota Banjarmasin ini.
Kini, Tapai Gambut telah bertransformasi menjadi legenda yang tidak hanya menjadi trademark bagi daerah asalnya Gambut, tapi juga Banjarmasin dan Kalimantan Selatan.
Reporter : Nirma Hafizah
Editor : Didin Ariyadi



















