Cerita Kai Imas, Petani Renta di Tanah Laut Rindukan Bantuan Pemerintah

  • Whatsapp

Wartaniaga.com, Pelaihari –Tinggal di gubuk reot di tengah padang sawah, kakek Masrani yang akrab di panggil kai imas lansia umur 63 tahun  tinggal di ujung Desa Bati Bati di jalan Talok Pulantan Rt 12, kecamatan Bati-Bati Kabupaten Tanah Laut  mengalami kondisi yang sangat memprihatinkan, bahkan terlihat dari dalam rumah tidak ada barang yang berharga bisa dimanfaatkan kai Imas untuk bertahan hidup ditengah pandemi Covid-19.

Bicara waktu, sudah lebih dari 20 tahun ia menghuni rumah yang hanya berukuran 4 x 6 meter persegi itu. Bahkan, baru beberapa tahun ini gubuknya diterangi listrik, itupun   mengharap aliran listrik  dari tetangga. Meski demikian, ucapan syukur masih terucap dari bibirnya dikala Wartaniaga.com menyambangi kediamannya ini.

BACA JUGA:  Lama Mati Suri, Hari ini Pasar Terapung Kuin Alalak Bangkit Kembali

Pasca meninggalnya sang istri, kai Imas hidup berdua dengan anak semata wayang yang bernama Doni. Sehari-harinya lansia ini bekerja sebagai petani upah yang menanam padi di sawah milik warga sekitar, tentunya kondisi ini tidak mencukupi kebutuhan hidup dan sekolah Doni.

“Kerjaan saya sehari-hari ya ngambil upah tanam padi borongan satu borongnya kai diberi upah  Rp75.000, apabila musim tanam bisa dapat 2 – 3 borong, jadi bisa dapat sekitar Rpx200 ribuan,” bebernya.

“Tapi saat tidak ada yang betanam ya menganggur, apalagi kai harus memenuhi kebutuhan sekolah Doni, untungnya warga sekitar banyak yang membantu memberikan uang jajan dan peralatan untuk sekolah,” timpal kai Imas sembari tertawa lirih.

BACA JUGA:  MENIKMATI KEINDAHAN TERSEMBUNYI DI BALIK LEGENDA MISTERI GUA BATU HAPU

Ia mengaku untuk saat ini dirinya belum mendapatkan bantuan baik berupa uang tunai maupun sembako dari pemerintah, meskipun beberapa bulan yang lalu pria yang hidup lebih dari 6 dekade itu sudah didata oleh petugas desa setempat, tetapi sampai saat ini belum ada bantuan yang datang.

Pos terkait