Telur Aluh-Aluh, Diminati Tapi Terbatas Produksi

Selain itu, faktor terbatasnya produksi telur ini dikarenakan setelah dipelihara selama 6 bulanan dan menghasilkan telur, bebek-bebek mereka dijual.

“ Air asin yang bisa mematikan bebek menjadi alasan petani memilih menjual bebek-bebek mereka, selain  untuk bisa menentukan pilihan apakah akan beternak atau tidak setelah musim panen” papar pria yang selalu berpenampilan rapi ini.

Meski banyak peminatnya,  Pambakal ( Kepala Desa,red) Aluh-Aluh ini tidak dapat berbuat banyak mengigat faktor alam dan kebiasaan masyarakat menjadi penentu banyak sedikitnya produksi hintalu yang kini harganya berkisar antara Rp 2200 hingga Rp 2500 per biji  ini.

“ Berkurangnya para peternak, dipelihara secara  musiman dan mulai sulitnya mendapatkan pakan yang alami menjadi faktor terbatasnya produksi telur Aluh-Aluh ini,”tandasnya.

 

Editor : Didin Ariyadi

Foto : Dok. Kepala Desa Aluh-Aluh

Pos terkait