Jika kebutuhan dasar tersebut sudah terpenuhi, sisa uang mudik dapat dialokasikan untuk investasi. Andy tidak menampik jika ekonomi lesu membuat investasi tidak menarik. Tapi, beberapa instrumen investasi justru menjadi kesempatan emas untuk mendulang untung.
Contohnya, kata dia, di pasar saham. Seperti kita tahu, pasar saham tak luput dari ‘infeksi’ virus corona. Sejak awal tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 28,63 persen ke level 4.496.
Secara otomatis, banyak saham-saham perusahaan dengan fundamental bagus yang sudah terdiskon. Sebut saja, saham PT Unilever Indonesia Tbk turun 10,71 persen sejak awal tahun menjadi Rp7.500 per saham, PT Bank Central Asia Tbk turun 26,40 persen ke Rp24.600 per saham, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menjadi Rp4.280 per saham, dan masih banyak lainnya.
Apabila fundamental perusahaan bagus, maka saham tersebut akan menguat lantaran nilai saham saat ini tak mencerminkan kondisi fundamental sesungguhnya perusahaan. Sebagai catatan, investasi tersebut untuk jangka panjang, bukan untuk diperdagangkan secara harian.
“Saran saya investasi langsung masuk ke saham, banyak saham unggulan yang diskon luar biasa. Kalau untuk belajar, minimal ke reksadana,” katanya.
Selain itu, dana mudik tersebut dapat digunakan untuk merintis usaha rumahan. Khususnya, bagi karyawan yang kehilangan pekerjaan atau cuti di luar tanggungan (unpaid leave) akibat pandemi.
Toh, kata dia, penjualan produk dapat dilakukan dengan mudah melalui sistem online. Dengan demikian, masyarakat tak perlu menyiapkan modal yang terlalu besar lantaran dilakukan secara digital.




















