Perpindahan Ibukota, Ancam Keberadaan Bahasa dan Budaya Banjar

  • Whatsapp
Perpindahan Ibukota, Ancam Keberadaan Bahasa dan Budaya Banjar

Wartaniaga.com, Banjarmasin – Demi meningkatkan eksistensi penggunaan Bahasa Banjar dalam keseharian, para pemerhati budaya yang terdiri dari para budayawan, akademisi serta para seniman yang ada di Banjarmasin menggelar diskusi pinggiran.

Pelaksana diskusi Khairiadi Asa Mengatakan, ketika Ibu Kota nanti dipindahkan ke pulau Kalimantan, sudah pasti budaya luar pasti akan masuk ke dalam kehidupan kita. Sehingga kemungkinan besar bisa mengancam keberadaan bahasa asli daerah.

Keberadaan Bahasa dan Budaya Banjar Terancam

“Bahasa banjar yang dipakai sekarang sudah mulai tidak murni lagi, soalnya banyak bahasa luar yang diserap kedalam bahasa banjar. Apalagi nanti ketika ibu kota pindah ke pulau kalimantan, pasti banyak terjadi percampuran budaya, termasuk bahasa,” ungkapnya di sela diskusi tersebut.

BACA JUGA:  Tidak Punya KTP, Cukup Surat Keterangan Mendaftar CPNS

Namun, menurut Khairiadi, pemindahan Ibu Kota Negara nanti juga akan berdampak baik bagi eksistensi bahasa daerah, khususnya Bahasa Banjar. “Yaa kita bisa disebut betawinya jakarta,” ujarnya.

Sejalan dengan hal itu, seorang akademisi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) ULM, Taufik Arbain menyebut adanya beberapa kosa kata yang terjadi penenggelaman bahasa asli banjar akibat masuknya bahasa asing.

“Layaknya bahasa Indonesia sendiri, banyak kosa kata yang berasal dari luar negeri maupun daerah yang diserap menjadi bahasa yang dipakai dalam keseharian, begitu juga keadaannya bagi bahasa Banjar,” tuturnya.Perpindahan Ibukota

Taufik juga menambahkan Bahasa Banjar sendiri juga banyak menyerap bahasa yang diserap dari bahasa Arab khususnya bahasa arab melayu yang dipakai pada penulisan kitab sabilal muhtadin dan kitab parukunan melayu karangan syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau yang dikenal sebagai Datu Pelampayan.

BACA JUGA:  Peta Banjarmasin Abad 17 Diserahkan Kementerian Pendidikan Belanda

“Banyak bahasa melayu yang diserap kedalam bahasa Banjar, termasuk bahasa melayu yang berasal dari aceh,” sebutnya.

Ia berharap diskus yang dilaksanakan kedua kalinya ini bisa memacu para sastrawan, seniman dan budayawan yang ada di kalsel terutama Banjarmasin bisa mengeksplor kembali bahasa Banjar yang kini sudah mulai tergerus zaman agar bisa eksis kembali.

“Saat ini kita akui kekuatan bahasa banjar dalam era globalisasi masih bisa bertahan, namun siapa yang bisa menjamin keberadaan bahasa asli banjar yang erat kaitannya dengan bahasa Melayu pada masa mendatang?,” Pungkasnya.

“Dengan kegiatan seperti inilah kita bisa mendiskusikan bagaimana caranya mempertahankan keeksistensian bahasa asli daerah kita,” tutupnya.

BACA JUGA:  Perkumpulan Jual Beli, Majukan Industri Dagang Kalsel

Reporter : Zakiri
Editor : Hamdani
Foto : Zakiri

Pos terkait