Wartaniaga.com, Banjarmasin- Bunyi setrika uap memecah keheningan pagi. Di antara pukul 06.00 hingga 07.00 WITA, ketika sebagian orang masih menikmati waktu istirahat, Wahyuni sudah mulai berjibaku dengan pakaian-pakaian pelanggan. Satu per satu, pakaian itu dirapikan, disetrika, dan dipersiapkan agar kembali dalam keadaan licin dan bersih.
Bagi Wahyuni, aktivitas itu bukan sekadar pekerjaan rutin. Dari usaha laundry dan jasa setrika yang dijalaninya, ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi dan masa depan dua anak yang terus diperjuangkan.
Di balik kepulan uap yang keluar dari setrikanya, tersimpan kisah tentang seorang ibu yang berusaha menjaga dapur tetap mengepul, usaha terus berjalan, dan pendidikan anak-anaknya tetap terbiayai.
Sejak sekitar setahun terakhir, Wahyuni memilih menggunakan setrika uap berbahan bakar gas elpiji 3 kilogram, yang akrab disebut gas melon. Keputusan itu diambil setelah ia merasakan beratnya biaya listrik ketika masih menggunakan setrika listrik untuk menunjang usahanya.
Tagihan listrik yang mencapai jutaan rupiah setiap bulan membuatnya harus mencari cara agar pengeluaran usaha tidak terus membengkak.
“Sebelumnya saya menggunakan setrika listrik, tetapi tagihan listrik bisa mencapai jutaan rupiah per bulan. Sekarang jauh lebih irit,” tuturnya kepada media ini, Rabu (21/10).
Menghitung Pengeluaran, Menjaga Harapan
Beralih ke setrika uap menjadi salah satu keputusan penting dalam perjalanan usaha Wahyuni. Ia tidak sekadar mengganti peralatan, tetapi juga berupaya menemukan cara agar pendapatan dari usahanya bisa lebih banyak tersisa setelah dikurangi biaya operasional.
Hasilnya cukup terasa. Menurut Wahyuni, penghematan yang diperolehnya mencapai lebih dari 50 persen dibandingkan pengeluaran sebelumnya untuk listrik.
Kini, biaya bahan bakar seterikanya bisa ditekan lebih kecil. mengingat kebutuhan bahan bakar setrika uapnya berkisar lima hingga tujuh tabung elpiji 3 kilogram setiap bulan.
“Kalau menggunakan setrika uap, saya hanya menghabiskan gas elpiji 3 kilogram antara lima hingga tujuh tabung setiap bulannya, tidak sampai Rp150 ribu sebulan. Sementara kalau seterika listrik tagihan bulanan PLN bisa tembus Rp 1 jutaan,” ungkap ibu dua anak tersebut.
Bagi sebagian orang, penghematan biaya operasional mungkin hanya terlihat sebagai hitungan angka. Namun, bagi Wahyuni, selisih pengeluaran itu memiliki arti yang jauh lebih besar.
Uang yang sebelumnya terserap untuk membayar tagihan listrik kini bisa dialokasikan untuk kebutuhan keluarga, termasuk membantu membiayai pendidikan kedua anaknya yang masih menempuh kuliah dan sekolah.
Di situlah arti penting sebuah penghematan. Bukan hanya membuat usaha lebih efisien, melainkan juga membuka ruang bagi seorang ibu untuk mengatur keuangan keluarga dengan lebih leluasa.
Setiap rupiah yang berhasil dihemat menjadi bagian dari ikhtiarnya mempertahankan usaha sekaligus memenuhi kebutuhan anak-anaknya.
Wahyuni mengakui, keberadaan elpiji 3 kilogram turut membantu menjaga keberlangsungan usaha laundry dan jasa setrika yang digelutinya. Dengan biaya operasional yang lebih ringan, ia merasa memiliki ruang lebih besar untuk memperoleh keuntungan.
“Si melon yang dapat menopang ekonomi kami. Berkat elpiji 3 kilogram ini, usaha laundry dan jasa setrika saya jadi bisa lebih untung,” katanya.
Meski demikian, ia menyadari bahwa harga dan ketersediaan gas tetap menjadi hal yang perlu diperhatikan. Selama menjalankan usaha, Wahyuni mengaku tidak pernah mengalami kesulitan berarti untuk mendapatkan elpiji 3 kilogram.
Namun, ketika pasokan sedang sulit dicari, harga yang harus dibayarnya bisa mencapai Rp23 ribu per tabung.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa bagi pelaku usaha kecil seperti Wahyuni, perubahan biaya sekecil apa pun dapat berpengaruh terhadap perhitungan pengeluaran bulanan. Ketika bahan bakar mudah diperoleh dengan harga terjangkau, aktivitas usaha menjadi lebih tenang. Sebaliknya, kenaikan harga bisa menambah beban yang harus diperhitungkan.
Karena itu, keterjangkauan bahan bakar menjadi salah satu faktor yang dirasakan penting dalam menopang kegiatan usahanya.
Lebih dari Sekadar Tabung Gas
Bagi Wahyuni, elpiji 3 kilogram bukan semata-mata bahan bakar untuk menyalakan setrika uap. Dalam kesehariannya, gas melon menjadi bagian dari upaya mengelola usaha agar tetap berjalan dan penghasilan keluarga dapat dimanfaatkan sebaik mungkin.
Di tengah rutinitas menyetrika pakaian pelanggan sejak pagi, ia terus berusaha menjaga keseimbangan antara kebutuhan usaha dan tanggung jawab sebagai seorang ibu.
Tidak ada jalan pintas dalam perjuangannya. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, biaya yang harus dihitung, serta kebutuhan pendidikan anak-anak yang mesti dipikirkan dari waktu ke waktu.
Wahyuni bersyukur karena menemukan pilihan yang menurut pengalamannya lebih hemat untuk menjalankan usaha. Penghematan tersebut memberinya kesempatan untuk mengatur keuangan keluarga dengan lebih baik.
Kisahnya memperlihatkan bahwa bagi pelaku usaha kecil, keputusan sederhana dalam memilih peralatan dan mengendalikan biaya dapat membawa perubahan berarti. Ketika pengeluaran operasional berkurang, ada peluang lebih besar untuk menjaga usaha tetap bertahan dan memenuhi kebutuhan keluarga.
Dan setiap pagi, ketika suara setrika uap kembali terdengar, Wahyuni melanjutkan ikhtiarnya. Merapikan pakaian pelanggan, menjaga usahanya tetap hidup, dan menaruh harapan agar kedua anaknya dapat terus melangkah menuju masa depan melalui pendidikan.
Di balik pakaian-pakaian yang kembali licin itu, ada perjuangan seorang ibu yang tak selalu terlihat: bekerja dengan tekun, berhemat sebisa mungkin, dan terus berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarganya.( Didin)



















