Wartaniaga.com, Kotabaru- Hidup bukanlah sekadar tentang seberapa lama kita bernapas, melainkan seberapa besar manfaat yang kita tebar untuk sesama, Selasa (17/2).
Prinsip inilah yang membawa langkah Abu Suwandi menyusuri jalanan pesisir di Desa Kerayaan, Kerumputan dan Tanjung Sungkai.
Baginya, melihat dapur warga kembali mengepul dan anak-anak bisa tidur dengan nyenyak adalah sebuah misi kemanusiaan yang tak bisa ditunda.
Abu bergerak dengan cara yang senyap namun terukur. Ia tak ingin bantuan yang diberikan salah sasaran. Maka, sebuah tim diterjunkan langsung ke lapangan untuk memotret realitas, mencari mereka yang benar-benar membutuhkan uluran tangan.
Dari pendataan itulah, muatan berisi kompor, tabung gas, kulkas, hingga kasur, mengalir langsung ke pintu-pintu rumah warga.
Aksi ini sejalan dengan pesan bijak Buya Hamka: “Jangan takut jatuh, karena yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh. Jangan takut gagal, karena yang tidak pernah gagal hanyalah orang-orang yang tidak pernah melangkah.” Abu telah memilih untuk melangkah, berani mengambil peran untuk menjadi solusi bagi kesulitan orang lain.
Di hadapan warga Kerayaan, Abu tak ingin jumawa. Dengan penuh kerendahan hati, ia menyampaikan maksud kehadirannya.
“Ini yang bisa saya lakukan, mudahan masyarakat senang dan bahagia. Maaf, saya tidak bisa membantu semuanya,” ujarnya lirih.
Kalimat ini mencerminkan apa yang pernah dikatakan Buya Hamka bahwa “Kecantikan yang abadi terletak pada keelokan adab dan ketinggian ilmu seseorang, bukan terletak pada wajah dan pakaiannya.”
Bagi Abu, membantu sesama adalah tentang memperkaya jiwa. Seperti kata Hamka, “Jika ingin melihat orang beriman, lihatlah ketika ia beramal.” Maka, deretan kompor dan kasur yang ia bagikan adalah wujud nyata dari sebuah kepedulian yang melampaui sekadar kata-kata.
Di pesisir Kerayaan, kehadiran Abu Suwandi bukan hanya membawa barang-barang logistik.
Ia membawa semangat bahwa di tengah kerasnya kehidupan, masih ada tangan-tangan yang tulus merangkul.
Ia membuktikan bahwa kebahagiaan sejati akan kita temukan saat kita mampu melapangkan jalan bagi orang lain yang sedang kesusahan.
Sebab pada akhirnya, jejak terbaik seorang manusia adalah seberapa banyak senyum yang berhasil ia lukis di wajah orang lain.
Reporter: Anaq.
Editor: Hariyadi




















