Batola Butuh Pemimpin yang Visioner dan Mengayomi

Dr Muhammad Pazri SH MH

Untuk itu, Direktur Borneo Law Firm Banjarmasin ini menilai Batola butuh pemimpin visoner dan progresif, yaitu pemimpin yang memiliki kemampuan dalam mengartikulasikan visi yang nyata, reliabel,memiliki gagasan dan menarik untuk masa depan sehingga itulah yang akan membuat percepatan dan mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah daerah.

” Masyarakat Batola juga butuh sosok pemimpin yang bisa menjadi panutan. Artinya, mereka yang mau bekerja ikhlas, kerja cerdas,kerja tuntas dan mengesampingkan kepentingan keluarga maupun golongannya,” kata Pazri menegaskan.

Selebihnya, kriteria pemimpin, menurut Pazri harus mengayomi yakni bisa melindungi dan menjadi teladan bagi masyarkat, karena wilayah Batola harus dibangun oleh orang-orang berbakat yang bisa menjadi pandu perjuangan dan manggalakkan pembangunan dengan menyerap kehendak serta aspirasi masyakat.

Dirinya berpendapat da beberapa awktir yang perlu dibenahi oleh pemimpin Batola ke depan, antara lain :

-Kondisi geografis Batola yang merupakan daerah rawa pasang surut berdampak terhadap tingginya anggaran yang harus dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur khususnya jalan dan jembatan. Hal ini berdampak kepada aksesibilitas terutama melalui transportasi jalan darat di beberap kecamatan belum lancar.
-Keluhan warga tani daerah pertanian pasang surut Batola antara lain masih berkutat seputar gagal panen pasca serangan hama tungro dan masalah pupuk bersubsidi juga masih tidak menentu.
-Pelayanan air bersih belum mampu melayani masyarakat secara maksimal akibat keterbatasan jaringan dan kondisi geografis Batola.
-Pada sektor-sektor bidang pembangunan yang lain tidak mampu memberikan pertumbuhan yang positif diantaranya terhambatnya arus barang dan orang. Pelayanan terhadap angkutan darat dan sungai perlu didukung oleh sarana dan prasarana jalan dan jembatan yang akan berpengaruh terhadap perkembangan ekonomi daerah sehingga penyediaan infrastruktur jalan dan jembatan sangat berpengaruh terhadap kelancaran pergerakan barang dan jasa.
-Adanya kesenjangan status kesehatan masyarakat dan akses terhadap pelayanan kesehatan.
-Kurangnya penyediaan pelayanan dan pemerataan pendidikan yang berkualitas untuk meningkatkan proporsi penduduk yang menyelesaikan pendidikan dasar ke jenjang yang lebih tinggi dan kurangnya tenaga guru.
-Pendapatan petani masih tergolong rendah sebagai akibat dari rendahnya produktivitas lahan. Meskipun secara umum produksi pertanian Kab. Barito Kuala khsusnya padi adalah terbesar di Kalimantan Selatan akan tetapi hal ini dikarenakan luasan tanam yang relatif lebih besar dibandingkan dengan Kabupaten/Kota lainnya.

Pos terkait