Bupati Bisa Cegah Polarisasi Jebakan Politik Praktis Kepala Desa

  • Whatsapp
Kadarisman

Wartaniaga.com-Kehidupan bernegara dan berkonstitusi kerap terjadi distori dalam praktik berpemerintahan. Keterlibatan pihak-pihak penyelenggara pemerintahan di semua level yang tidak boleh bersinggungan dengan politik praktis terjadi. Mereka kemudian terseret arus politik kekuasaan yang kemudian memberi dampak buruk terhadap amanah kenegaraan dan substansi mengakselarasi kehidupan politik untuk menciptakan kebaikan bersama.

 

Di penyelenggara pemerintahan paling bawah, desa misalnya. Kerap kali kepala desa salah menempatkan dirinya dalam kafasitasnya sebagai penyelenggara pemerintah desa. Sebagai sub sistem pemerintahan di atasnya, kepala desa sangat rawan dipengaruhi oleh aktor kekuasaan politik di atasnya. Rancak kepala desa ditarik atau menerjunkan diri dengan sadar untuk masuk ke dalam jebakan politik praktis.

BACA JUGA:  1 + 1 = ?

Distorsi itu tercermin pada manuver Asosiasi Pemerintahan Desa Indonesia (APDESI) baru-baru ini. ABDESI bermetamorfosa sebagai kendaraan dukung politik yang disodorkan atau yang datarik ke dalam pusaran politik kekuasaan. Publik masih ingat betapa para “pembakal”seluruh Indonesia telah gagal menerjemahkan hak politik dan aktivitas politik praktis ketika mereka mendeklarasikan dukungan kepada Jokowi untuk presiden tiga periode beberapa waktu lalu, sekalipun dukungan itu pada akhirnya layu sebelum berkembang. Rakyat menolak itu!

Publik menilai APDESI dengan kumpulan kepala desa di dalamnya mengangkangi UU Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa. Tidak hanya itu, manuver politik itu juga sekaligus menghianati mandat masyarakat desa yang sama sekali tidak pernah memberikan kewenangan kepada kepala desa untuk terlibat dalam transaksional politik praktis.

BACA JUGA:  Perlunya Kebijakan Strategis Pemerintah Mengatasi Defisit Transaksi Berjalan

Apa yang terjadi di pusat juga terjadi di daerah. Gerakkan APDESI dan tentu saja kepala desa di dalamnya melakukan bargaining dan mentransformasikan diri sebagai kelompok kepentingan yang keluar dari khitah asosiasi itu sendiri. Fakta-fakta itu sangat sulit disangkal sekalipun juga sangat kasat mata. Pun demikian segelap-gelapnya malam, kilat di banyu jernih bagaimana hendak menutupinya.

Pos terkait