Musik Kintung, Tradisi Masyarakat Banjar untuk Memanggil Hujan

  • Whatsapp

Wartaniaga.com, Martapura – Kintung adalah salah satu musik tradisional Kalimantan Selatan (Kalsel) yang dimainkan sehabis musim tanam ketika tanah kering dan tidak ada hujan.

Untuk memanggil hujan biasanya bunyi katak saling bersahut-sahutan, dan para petani waktu itu membuat alat musik yang dipukul menyerupai suara katak atau kodok.

Gusti Jadri

Demikian dikatakan Gusti Jadri salah satu pimpinan rombongan para pemain musik Kintung Arrahman Martapura saat mendemokan bunyi-bunyian pada acara pasar murah yang diadakan TP PKK Kab. Banjar di halaman Kantor Camat Martapura, Selasa (8/3).

“Biasanya musik Kintung ini dimainkan setelah musim tanam ketika musim kering tidak ada hujan, membunyikan alat musik ini secara berirama menyerupai suara katak dan merangsang katak-katak pun ikut berbunyi,”terangnya.

BACA JUGA:  Program BISA dari Kemenparekraf untuk Gerakkan Lagi Wisata Tala

Menurutnya, seperti kepercayaan nenek moyangnya bila bunyi katak saling bersahut-sahutan itu pertanda musim hujan akan datang dan sawah yang kering akan basah oleh adanya hujan.

Alat musik Kintung ini diperkirakan sudah ada 4 generasi atau sekitar 100 tahun yang lalu dan menurut kepercayaan masyarakat Banjar dengan membunyikan alat ini bisa memanggil hujan.

Berbahan bambu dan kayu yang dipukul-pukul bergantian sehingga menimbulkan bunyi menyerupai bunyi katak ketika memanggil hujan.

Selain musik Kintung sebagai pemanggil hujan, ada juga bentuk tari Ahuy. Saat acara merontokkan padi dan sebagai bentuk syukur dan gembira ketika panen berhasil.

“Tari Ahuy dilakukan saat mairik banih (menginjak-ijak padi) untuk merontokkan padi dari batangnya sambil diiringi dengan musik panting,”tambah Jadri.

BACA JUGA:  Limbah Oli Juga Ganggu Kenyamanan Pariwisata Siring Kota

Jadri menceritakan, pada era Bupati Budhi Gawis sekitar tahun 60-an, ketika ia masih anak-anak alat musik tradisional ini diperlombakan disetiap desa dan bagi pemenang mendapatkan hadiah.

“Sedang yang dinilai dari lomba tersebut adalah dari suara yang dibunyikan, keserasian bunyi dan pengaturan nadanya, cepat atau lambat,”ujarnya.

Dalam penerapannya sekarang masih digunakan masyarakat desa apabila sehabis musim tanam bila musim kering atau kemarau saat melanda sawah para petani.

“Untuk melaksanakan permainan musik Kintung ini pada malam hari setelah melakukan solat Isya, dilakukan oleh 8 orang 7 sebagai pemain dan 1 orang sebagai pengarah, tutupnya.

Reporter : Febrianor
Editor : Eddy Dharmawan

L

Pos terkait