DHC 45 Prakarsai Renovasi Monumen Munggu Raya

  • Whatsapp

Wartaniaga.com, Kandangan-Sebuah bukit kecil bernama Munggu Raya, di desa Sungai Raya Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), jadi saksi bisu sejarah besar politik kekuasaan di tanah Kalimantan pada tahun 1949. 

Lokasi ini ditandai dengan sebuah tugu sederhana dan akan segera direnovasi tahun 2021 ini.

Perjuangan rakyat Kalimantan dipimpin Brigjend H Hasan Basry, berbuntut dibacakannya Teks Proklamasi Gubernur Tentara ALRI Divisi IV pada 17 Mei 1949. Proklamasi dilakukan di Kampung Niih, yang sekarang ini menjadi wilayah administrasi Desa Hulu Banyu, Kecamatan Loksado.

Pemberontakan (perjuangan, red) yang didukung rakyat kala itu, membuat pihak pemerintahan kolonial Belanda menjadi terdesak.

Pihak Pemerintahan kolonial Belanda terpaksa mengikuti perundingan, dengan Pemerintahan Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan, yang baru memproklamirkan kekuasaan wilayah itu.

Perundingan dilakukan tanggal 2 September 1949, di sebuah wilayah bernama Munggu Raya. Membahas tentang klaim kekuasaan wilayah dari kedua pihak.

BACA JUGA:  Kapolres Tala dan Ibu Jadi Juru Masak di Dapur Umum Polres Tanah Laut

Lokasi itu, sekarang ini merupakan wilayah administrasi Desa Sungai Raya Selatan, Kecamatan Sungai Raya.

Komisi Tiga Negara hadir sebagai penengah, dalam perundingan antara Pemerintahan Gubernur Tentara ALRI Divisi IV melawan pemerintahan kolonial Belanda tersebut.

Komisi Tiga Negara adalah sebuah komisi yang dibentuk oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tanggal 26 Agustus 1947, untuk menengahi konflik antara Indonesia dan Belanda.

Anggota komisi itu terdiri Negara Amerika Serikat yang ditunjuk kedua pihak, Negara Australia yang ditunjuk pihak Indonesia, dan Negara Belgia yang ditunjuk pihak Belanda.

“Saat itu dari pihak Indonesia, bahkan turut hadir Jenderal Soeharjo. Sedangkan pihak Gubernur Tentara ALRI diwakili Brigjend H Hasan Basry,” sebut Wakil Bupati HSS Syamsuri Arsyad yang merupakan Ketua Dewan Harian Cabang (DHC) 45 HSS.

Hasil perundingan itu terang Syamsuri, melahirkan perjanjian kesepakatan antara Pemerintah Gubernur Tentara ALRI Divisi IV dengan Belanda.

BACA JUGA:  Bawaslu HSU : Pemilu Perlu Partisipasi Masyarakat

Jenderal Mayor Suharjo atas nama pemerintah Indonesia, mengakui ALRI Divisi IV sebagai Angkatan Perang Indonesia.

Setelah beberapa kali pertemuan lagi, pada 16/17 Oktober 1949 menghasilkan kesepakatan, penghentian permusuhan secara resmi di Kalimantan.

Syamsuri Arsyad berujar, saat ini masyarakat secara luas lebih mengenal peristiwa proklamasi 17 Mei 1949. Padahal terangnya, pasca peristiwa itu ada kelanjutannya, yakni peristiwa 2 September 1949 itu.

Menurutnya, sejarah itu tarafnya bisa dikatakan bernilai internasional.

“Peristiwa di Munggu Raya adalah peristiwa bersejarah, peristiwa yang menurut kami bertaraf internasional,” ujar Syamsuri.

Sedangkan pengingat lokasi peristiwa sejarah besar itu, telah berdiri lama sebuah tugu yang dinamai sesuai nama lokasinya, yakni Tugu Munggu Raya.

Tugu kecil itu ukurannya tidak lebih 1 meter persegi.

Bentuknyapun sederhana, minimalis, dan terdapat tulisan yang sudah mulai kabur hampir tak bisa dibaca, tentang peristiwa tanggal 2 Desember 1949 itu.

BACA JUGA:  Peringati Bulan Bung Karno, DPC PDI Perjuangan Tanah Laut Gelar Berbagai Kegiatan

Lokasinya berdampingan dengan berdiri tegaknya menara pemancar siaran TVRI, serta sebuah rumah yang ditinggali warga.

DHC 45 HSS merasa prihatin terhadap kondisi tugu saat ini, sehingga perlu adanya   renovasi, sekaligus mengangkat sejarah di balik tugu tersebut.

Tepat pada peringatan Upacara Peringatan  ke 72 Hut Proklamasi  Gubernur Tentara  ALRI Divisi IV pertahanan Kalimantan  17 Mei 2021, di tandai dengan pembukaan Tirai oleh Bupati HSS, Achmad Fikry  yang merupakan tanda dimulai pembangunan Renovasi Tugu Munggu Raya di Desa Sungai Raya Selatan , Kecamatan Sungai Raya.

Nantinya setelah tugu munggu raya selesai tahap Renovasinya dapat menjadi wisata sejarah di HSS yang dapat mengangkat peristiwa sejarah itu sehingga dapat mengingatkan masyarakat luas akan proses perjuangan di tanah Kalimantan.

“Kita hanya ingin mengangkat kesejarahan, ini penting untuk generasi muda kita juga. Jangan sampai hilang,” pungkasnya.

Reporter : Amutz
Editor : Aditya

Pos terkait