Jualan Bawang Goreng Beromzet Ratusan Juta Rupiah Perbulan

  • Whatsapp

Wartaniaga.com, Banjarmasin – Menggeluti dunia usaha itu tidaklah mudah seperti membalik telapak tangan, harus berani jatuh bangun dan menghadapi resiko yang terjadi.

Yakin dan fokus menjadi salah satu kincinya, sehingga keuletan dan kesuksesan akan datang menghampirimu.

Seperti itulah semboyan hidup pemilik usaha bawang goreng yang saat ini beromzet ratusan juta perbulan.

Tri Isyiana terinpirasi dagangan bubur milik ibunya yang selalu menyediakan bawang goreng untuk campuran buburnya.

Ternyata beberapa teman suka membeli bawang goreng milik ibunya. Sehingga mulailah dipertengahan Juni 2015 membuka usaha bawang goreng dengan pengelolaan
yang lebih professional.

Begitu ditawarkan ke pasar, sambutan masyarakat cukup bagus. Terlebih lagi bawang goreng produksinya sangat pas dan harganya cukup terjangkau. Sehingga beberapa retail di daerah Kaltim dan Balikpapan mengambil bahan bawang goreng miliknya.

BACA JUGA:  Ria Sulap Bakul Purun Jadi Benda Ekonomis

Didampingi sang suami tercinta, Dwi Farid pemilik BjB Berkah inipun membuat usahanya berbadan hukum dengan nama PT Berkah Makyem Sejati yang memproduksi bawang goreng dengan kemasan yang eklusif.

Sebagaian juga masih dipasarkan dipasar tradisional dengan kemasan yang sama.

Saat ikut serta dalam pagelaran UMKM di Atrium Duta Mall Banjarmasin Tri Isyiana didampingi suaminya sangat berterimakasih kepada Bank Indonesia Provinsi Kalsel yang membantu usaha miliknya selain diikut sertakan dalam Industri Kreatif Berbasis Syariah (IKRA) beberapa tahun yang lalu.

Mereka juga mendapatkan bantuan mesin otomatis packing dan Adon serta mesin pengering bawang goreng sehingga memudahkan dan mempercepat proses produksi bawang goreng miliknya.

BACA JUGA:  Intan Go, Aplikasi Karya Anak Banua yang Siap Bersaing di Bisnis Transportasi Online

“Bank Indonesia juga selalu memberikan pelatihan dan pengembangan SDM setiap masukan dari kami binaan UMKM selalu di follow up oleh Bank Indonesia,” tambah Dwi.

Pembuatan bawang goreng sehari sekitar 200kg itu untuk bawang merah dan 20% untuk produksi bawang putih.

“Untuk produksi dan pemasaran bawang goreng kami dibantu oleh 9 orang karyawan bahkan juga saya dan isteri saya ikut membantu dalam pemasaran bawang goreng tersebut, dan untuk pengupas bawang kami mengambil ibu-ibu yang ingin pendapatan tambahan sekitar 30 orang dengan upah harian Rp 3000/kilogram bawang mentah,” ujar Tri Isyiana yang didampingi Dwi Farid suaminya.

Dwi Farid juga menambahkan bahwa dengan adanya fluktuasi harga bawang yang terkadang mahal kami siasati dengan menjual dengan memakai bungkus dengan mengurangi jumlah bawang dan harga tetap.

BACA JUGA:  BNBK Ajak UMKM Kembangkan Usaha Secara Online

Adapun segmentasi pasar bawang goreng mereka ada 3, yaitu pasar tradisional, retail modern dan catering makanan. Saat wabah corona produksi bawang goreng meningkat terutama untuk penyediaan retail, pasar modern dan sebagian pasar tradisional sedang catering agak menurun.

“Jangan sekedar hanya untuk bermimpi dan berencana, tetapi harus direalisasikan. Jangan terpaku dengan modal yang besar tetapi mulailah dari yang kecil,” pungkas Dwi Farid kiat-kiat dalam menjalankan usahanya.

Reporter : Edy Dharmawan
Editor : Ahmad Yani

Pos terkait