Ditengah Pandemi Covid-19, Indocement Mampu Tingkatkan Permintaan Pasar

Untuk pendapatan neto perusahaan menurun -11,0% menjadi Rp14.184,3 miliar, ditahun 2019 sebesar Rp15.939,3 miliar yang disebabkan oleh kombinasi dari volume lebih rendah dan harga jual rata-rata campuran yang lebih rendah, meskipun harga jual semen rata-rata domestik sebenarnya dapat dipertahankan naik tipis sebesar 1% jika dibandingkan tahun lalu.

Menurut Marcos, ditahun 2020 tentunya memberikan tantangan berbeda dari tahun-tahun yang pernah dialami sebelumnya, sejak awal tahun industri semen dilanda dengan lebatnya musim hujan sekitar 2 bulan kemudian di susul dampak pandemi Covid-19. Oleh karenanya, keseluruhan pertumbuhan ekonomi termasuk industri semen berada pada titik terendah selama triwulan kedua saat awal pandemi dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang ketat. Kemudian pemulihan terjadi secara gradual di paruh kedua tahun 2020, walau relatif lambat disebabkan adanya kasus baru Covid-19 yang masih meningkat seiring dengan berjalannya pembatasan mobilitas.

“Di awal 2021, industri semen dirasa masih tertekan karena siklus tahunan musim hujan termasuk meningkatnya situasi pandemi Covid-19. Akan tetapi, dengan berbagai upaya melihat situasi tersebut memasuki bulan Februari terlihat adanya pertumbuhan yang baik sekitar 1% dan itu pertama kalinya sejak pandemi,” tambahnya.

Indocement meyakini dengan adanya beberapa kebijakan yang baru diterbitkan oleh pemerintah seperti pembentukan Sovereign Wealth Funds (SWF), kebijakan kredit kepemilikan rumah bunga rendah, pertumbuhan konsumsi semen yang lebih kuat akan terjadi pada semester kedua tahun 2021 khususnya semen curah dengan dimulainya beberapa proyek besar baik infrastruktur, pembangunan pabrik-pabrik baru dan pembangunan lainnya pastinya akan memberikan dampak positif bagi industri semen.

“Tentu menjadi harapan dengan berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah geliat industri semen akan kembali meningkat khususnya Indocement. Kuatnya arus kas yang dihasilkan dari kinerja operasi dan upaya manajemen yang berkelanjutan untuk meningkatkan modal kerja adalah kunci unutk menjaga neraca keuangan kami yang tangguh,” tutupnya.

Reporter : Anaq
Editor : Aditya

Pos terkait