Plt Walikota Sambangi Makam Pahlawan Sambut Hari Pahlawan 2020

Wartaniaga.com, Banjarmasin– Perjuangan 9 Urang Banjar,  yaitu Badran, Badrun, Utuh, Umar, Tarin, Juma’in, Sepa, Dullah, dan Pa’ma’rupi, dalam ikut merebut kemerdekaan di Bumi Kayuh Baimbai, tak sia-sia.

Meski mereka gugur dalam pertempuran itu, namun hasil perjuangannya mereka hingga kini dapat dirasakan seluruh elemen masyarakat Kota Banjarmasin.

Pertempuran di kawasan Jalan DI Panjaitan Banjarmasin pada tanggal 9 November 1945 atau tepatnya sehari sebelum perang besar melawan penjajah, yang dilakukan arek-arek Suroboyo itu di Surabaya,  kini selalu dikenang masyarakat kota ini.

Setiap tanggal 9 November, seluruh lapisan masyarakat kota ini selalu memperingatinya dengan mengunjungi lokasi pertempuran tersebut.

Selain menggelar apel militer yang dipimpin langsung Kapolresta Banjarmasin Kombes Pol Rachmat Hendrawan, yang diikuti Plt Walikota Banjarmasin H Hermansyah, Dandim 1007 Banjarmasin, dan seluruh pejabat lingkup Pemko Banjarmasin, mereka juga meletakkan karangan bunga di monumen yang kini terletak persis di pojok halaman Kantor KPPN Banjarmasin itu.

Selain di kawasan monumen yang menggugurkan 9 pahlawan pejuang kemerdekaan tersebut, H Hermansyah bersama rombongan juga mendatangi Tugu 9 November yang terletak di kawasan Jalan Pangambangan, Banjarmasin.

Di sana, mereka menggelar apel militer, meletakkan karangan bunga, dan memberikan santunan kepada kerabat para pejuang perebut kemerdekaan.

Tugu 9 November dibangun untuk memperingati bangkitnya perlawanan rakyat Banjarmasin, khususnya para pejuang yang tergabung dalam Barisan Pemberontakan Republik Indonesia Kalimantan (BPRIK) yang bermarkas di Banua Anyar, menyerang secara besar-besaran ke markas NICA di Benteng Tatas (sekarang lokasi Masjid Raya Sabilal Muhtadin) di pusat kota Banjarmasin.

Pasukan penjajah kemudian melakukan serangan balasan ke markas pejuang di Jalan Jawa (kini Jl DI Panjaitan) dan kawasan Kelayan.

Tanggal 12-13 November 1945, NICA kemudian mengirim pasukan menggunakan kapal perang Kalua, ke markas BPRIK di Benua Anyar.

Serangan besar itu tak hanya mengarah kepada para pejuang, tapi juga penduduk di kawasan Pengambangan,  Banua Anyar, dan sekitarnya.

Pos terkait