Menilik Sejarah Geologi Bangka Belitung Yang Ada di Pusat Informasi Geologi

  • Whatsapp

Wartaniaga.Com,Jakarta- Sejauh ini kawasan Geopark Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO ialah Kaldera Danau Toba, Provinsi Sumatera Utara. Danau ini ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark (UGG) pada Agustus tahun lalu. Kaldera Toba terbentuk dari ledakan super vulkanik 74.000 tahun lalu. Tak hanya Kaldera, sesungguhnya Indonesia menyimpan begitu banyak Geowisata (geopark) yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, sayangnya kawasan tersebut tidak dikelola dengan baik.

Dalam lawatan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa, ke Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), beliau meresmikan pembukaan Pusat Informasi Geologi (PIG). Tempat ini akan digunakan sebagai wadah informasi bagi masyarakat dan bagi para peneliti tentang Geosite yang ada di Kepulauan Babel.

BACA JUGA:  Jokowi Larang Mudik di Tengah Corona

PIG menampilkan lansekap dan infografis seputar geowisata yang ada di Provinsi Bangka Belitung. Pengunjung dapat melihat kondisi geologi Pulau Belitung serta mengetahui warisan geologi yang ada di sana. Keberadaan PIG diharapkan agar masyarakat dapat lebih mengenal dan memahami makna kebumian yang ada di setiap situs-situs penting yang ada di Pulau Belitung.

Selain meresmikan PIG, Menteri juga meninjau kawasan Geopark Kepulauan Belitung. Untuk saat ini, Kementerian PPN/Bappenas tengah memperjuangkan agar Geopark Bangka Belitung dapat masuk ke dalam daftar geopark yang diakui oleh UNESCO.

Kepulauan Babel jika dilihat dari sejarahnya terbentuk dari hasil aktivitas tektonik dan perubahan muka air laut pada kisaran 15 -30 juta tahun yang lalu.

BACA JUGA:  Pemprov DKI Tutup 20 Perkantoran yang Tidak Taat Aturan PSBB

Sekitar 5 juta tahun yang lalu zona subduksi dan sebaran gunung api berkembang hampir mendekati keadaan saat ini. Aktifitas tektonik ini menyebabkan vulkanisme yang semakin intensif di sepanjang zona subduksi. Sementara itu lautan yang ada di antara pulau-pulau paparan sunda yang dulunya berupa dataran purba termasuk Pulau Belitung, relatif stabil. Kondisi ini dicirikan oleh rendahnya aktivitas gempa anomali gravitasi geostatik yang rendah serta tidak adanya aktifitas gunung berapi.

Pos terkait