Dampak buruk selanjutnya, perusahaan mau tidak mau harus ‘putar otak’ mencari cara agar arus kas (cash flow) tetap lancar, meski pendapatan mungkin tidak masuk. Sebab, biaya operasional terus berjalan. Sekalipun biaya produksi bisa dihentikan, pengeluaran untuk gaji karyawan harus tetap berjalan.
“Secara realistis, kondisi saat ini tidak memungkinkan perusahaan untuk mengeluarkan biaya yang sifatnya non-esensial, karena banyak masalah yang mengancam dan akan mengganggu cash flow,” tuturnya.
Contohnya, biaya untuk rencana investasi dan pengembangan bisnis ke depan. Begitu pula dengan biaya untuk tunjangan berlebih bagi direksi atau pegawai.
Di sisi lain, Ekonom INDEF, Ahmad Heri Firdaus melihat dampak kebijakan saat ini tidak hanya menyerang sektor produksi, namun juga konsumsi masyarakat langsung.
“Memang di satu sisi, kalau benar lockdown, itu tidak disukai pengusaha, sekarang saja sudah banyak dampaknya, meski penurunan ekonomi mau tidak mau akan terjadi. Di seluruh negara pun begitu,” imbuh Heri.
Hitung-hitungan Heri, setidaknya ada Rp1,3 triliun dari hasil perputaran bisnis di ibu kota lenyap begitu saja akibat pandemi corona. Estimasi tersebut berasal dari proyeksi Produk Domestik Bruto (PDB) DKI Jakarta sekitar Rp2.400 triliun per tahun.
Reporter : Mamay
Editor : Riky
Foto : M. Risyal Hidayat




















