Cerita WNI Asal Tala di Taiwan, Menimba Ilmu di Tengah Merebaknya Covid-19

Muhammad Fajar

Ia menceritakan di tempat ia menimba ilmu tersebut tidak pernah diterapkan lockdown, karena Taiwan cukup cepat aktif dan tanggap dalam penanganan wabah penyakit ini, seluruh perguruan tinggi di Taiwan sesuai surat keterangan pemerintah memperpanjang masa libur musim dingin di sela-sela blokade pengunjung tersebut.

Lanjutnya, memasuki musim gugur kampus memberikan pelayanan aktif dengan melakukan cek suhu tubuh dan semprotan sanitizer yang berjaga-jaga di pintu masuk kampus, tidak hanya itu cairan sanitizer sangat mudah didapat seperti kantin yang menyediakan semprotan sanitizer secara cuma-cuma kepada mahasiswa serta merubah kebiasaan cuci piring dan alat makan lainnya menjadi alat makan sekali pakai seperti sumpit dan piring kertas, masker, sabun cuci tangan dan cairan sanitizer diberikan secara gratis oleh pengajar dikelas.

Disebutkannya, kampus menetapkan beberapa peraturan untuk selalu menyemprotkan cairan sanitizer saat masuk dan keluar kelas serta menggunakan masker saat pergi keluar lingkungan umum, lift seperti ruangan isolasi dengan banyak cover yang menutupi tombol agar tidak terlular dari tombol lift yang digunakan secara bersamaan.

“Kadang teman-teman usil dengan menggunakan sikut dan dengkul untuk menekan tombol lift. Setiap minggunya hanya diperbolehkan membeli 3 masker dengan menunjukkan ARC (KTP Taiwan),” ungkapnya.

Fajar menambahkan semua masyarakat memiliki kesempatan yang sama dalam pelayanan tidak hanya tenaga migrasi ataupun mahasiswa asing yang sedang menempuh pendidikan.

 

Reporter : Tony Widodo

Editor      : Mukta

Foto        : Ist

Pos terkait